Denny Siregar Kritik Anak STM Demo di DPR, 'Biar dilatih jd lelaki oleh TNI dan ga tumbuh jd banci'
Denny Siregar kritik anak STM yang demo di DPR, 'Biar dilatih jd lelaki oleh TNI dan ga tumbuh jd banci'.
TRIBUN-TIMUR.COM - Denny Siregar kritik anak STM yang demo di DPR, 'Biar dilatih jd lelaki oleh TNI dan ga tumbuh jd banci'.
Pegiat media sosial pendukung Presiden Jokowi mengkritik kelompok demonstran.
Sehari setelah para mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya melakukan aksi di depan Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, giliran para pelajar melakukan aksi dengan tuntutan dan di lokasi yang sama, Rabu (25/9/2019).
Sejak Rabu pagi, bahkan tagar #STMMelawan #STMBergerak, dan sejumlah tagar lainnya mendominasi trending Twitter Indonesia.
Tidak hanya itu sebelumnya juga beredar sebuah video bentrok pelajar STM dengan anggota kepolisian.
Terhadap fenomena tersebut, pegiat media sosial Denny siregar melalui akun Twitter miliknya @Dennysiregar7 menyoroti hal tersebut.
"Ngeliat para pelajar yang demo rusuh itu, gampang kemakan hoaks dan provokasi," demikian ditulis Denny Siregar.
Baca: Kabar Buruk untuk Jokowi, Ternyata yang Demo Adalah Pendukungnya, Diingatkan Anak Mantan Presiden
Baca: 570 Anak SMP - SMA Ditangkap Saat Demo Sekitar DPR, Gegara Kabar Suami-Istri Dilarang Hubungan Badan
Karena itulah dirinya mengusulkan agar para pelajar STM/SMA mengikuti pelatihan bela negara.
"Kok gua jadi setuju ya ada konsep bela negara, dimana lulusan SMA sederajat hrs ikut pendidikan ala militer spt di bbrp negara maju," tulis Denny Siregar lagi.
Dan untuk melatih para pelajar STM/SMA itu menurutnya yang cocok melatihnya adalah TNI.
"Biar dilatih jd lelaki oleh TNI dan ga tumbuh jd banci," tulis Denny Siregar lagi.
Selain itu, Denny Siregar juga menyebut kalau mereka yang terlibat rusuh dengan aparat itu wajahnya tidak mencerminkan wajah anak-anak STM/SMA.
"Gua liat foto2 demo hari ini, katanya anak2 STM pake baju putih abu. Gua pengen bilang, wajah anak sekarang kok boros2 ya. Kagak ada wajah remaja2nya," tulis Denny Siregar.
Ia juga menilai para pelajar tersebut ikut turun ke jalan karena mencontoh mahasiswa.
"Kemaren kakak mahasiswa. Sekarang kakak di SMP dan SMA. Kami siappp kalau harus turun juga. Batalkan pribahasa guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Kami juga kalo kencing berdiri !!" tulis Denny Siregar.
Denny Siregar menutup cuitannya dengan menyebut bahwa semua kejadian di atas karena kesalahan Presiden Jokowi.
"Ini salah @jokowi!!," tulis Denny Siregar.
Denny Siregar juga mengunggah video sejumlah pelajar yang ditangkap.
570 Pelajar Ditangkap
Jumlah pelajar yang diamankan polisi terkait aksi unjuk rasa di sekitar Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (25/9/2019), bertambah.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, polisi telah mengamankan 570 pelajar SMP dan SMA hingga pukul 22.00 WIB.
"Iya benar sudah 570 pelajar (yang diamankan)," kata Kombes Argo Yuwono saat dikonfirmasi.
Menurut Kombes Argo Yuwono, para pelajar yang diamankan menjalani pembinaan di Polda Metro Jaya.
Kemudian, sebagian dari para pelajar telah dijemput oleh orangtua mereka.
"(Sebagian pelajar) didata kemudian dijemput orangtuanya," ujar Kombes Argo Yuwono.
Polisi sebelumnya melakukan sweeping dan menangkap sejumlah pelajar berseragam putih abu-abu dan pramuka yang mengendarai motor menuju Kompleks Parlemen Senayan.
Sementara kelompok pelajar dari berbagai sekolah melakukan kerusuhan di beberapa lokasi.
Mereka bentrok dengan polisi.
Mereka melakukan pembakaran seperti pos polisi dan motor.
Hingga saat ini, polisi belum mengetahui tujuan aksi unjuk rasa tersebut yang digelar pelajar tersebut.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto mengungkapkan, para pelajar mengikuti aksi demo dengan alasan solidaritas antarteman.
Informasi tersebut didapat dari para pelajar yang ditemui Kak Seto di Polda Metro Jaya.
"Ada satu (pelajar) yang bilang ikut-ikutan karena semua teman begitu. Mereka hanya mengatakan solidaritas kepada teman," kata Kak Seto di Polda Metro Jaya.
Kak Seto menambahkan, pelajar tersebut juga mendapatkan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya terkait rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP).
Korban Hoax Pasal Aturan Hubungan Badan Suami-Istri
Informasi hoaks itu didapat para pelajar dari media sosial.
Salah satu informasinya adalah pasal yang mengatur hubungan antara pasangan suami dan istri.
"Ada juga yang hanya mendengar bahwa isi-isi (RKUHP) yang sangat merugikan, katanya kalau suami istri kok enggak boleh berhubungan, bagaimana dong caranya punya anak," ungkap Kak Seto.
Oleh karena itu, Kak Seto meminta orangtua lebih bijak mengawasi anak-anaknya dalam menggunakan media sosial.
Sementara Dinas Pendidikan DKI Jakarta meminta kepala sekolah dan pengawas sekolah untuk mengantisipasi murid-muridnya agar tidak melakukan aksi unjuk rasa.
"Sehubungan dengan aktivitas demonstrasi oleh massa, mohon untuk mengantisipasi kegiatan para peserta didik sekolah masing-masing yang mengarah atau berpotensi pada kegiatan pengerahan massa," ujar Sekretaris Dinas Pendidikan DKI Jakarta Susie Nurhati melalui keterangan tertulis.
Selain itu, Dinas Pendidikan juga meminta pihak sekolah mengarahkan murid-muridnya agar tidak bertindak anarkistis.
"Mengarahkan dan membimbing siswa agar tidak terlibat kegiatan yang menggangu ketertiban umum serta tindakan anarkistis yang merusak fasilitas masyarakat," kata Susie.
Kemudian, Dinas Pendidikan juga meminta kepala sekolah untuk mengerahkan guru dan seluruh pegawai sekolah untuk menjamin keamanan para siswa dan lingkungan sekolah.
Kepala sekolah juga diminta bekerja sama dengan pihak keamanan dan masyarakat dalam mengamankan lingkungan sekolah.
Awal Mula Kerusuhan 25 September
Ratusan pelajar dari berbagai sekolah sebelumnya datang menuju gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Rabu (25/9/2019).
Namun, belum sampai di depan gedung wakil rakyat, langkah mereka terhenti, Polisi mencegat mereka, melarang mereka berdemonstrasi di depan gedung itu.
Alasan polisi, saat ini area di depan gedung DPR sedang disterilkan dan diperbaiki akibat kerusuhan pada Selasa (24/9/2019).
Selain itu, polisi mencurigai motif mereka berdemonstrasi karena massa nyatanya tidak paham akan tuntutan mereka.
Sekitar 200 mahasiswa kemudian dijemur di jalan dan kemudian dibawa ke Polda Metro Jaya. Namun, ratusan lainnya bertahan di pinggir Jalan Gatot Subroto hingga Jalan Tentara Pelajar.
Mereka mulai menyerang polisi dengan batu di dekan pos polisi Palmerah.
Polisi langsung membalasnya dengan semburan air dari mobil water canon. Pelajar justru semakin menjadi dan mulai melempari polisi dengan petasan.
Polisi kemudian menembakkan gas air mata yang membuat pelajar mundur dari lokasi semula.
Bentrok mahasiswa dengan polisi terus terjadi hingga pukul 19.30.
Bentrok serupa juga terjadi di Jalan Gerbang Pemuda, Senayan dekat Hotel Mulia, dan juga fly over Slipi.(*)