Citizen Reporter

Kuliah Umum Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Bahas Pluralisme

Kuliah Umum Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Bahas Pluralisme di Kampus UIN Alauddin Makassar, Samata, Gowa

Kuliah Umum Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Bahas Pluralisme
Citizen Reporter
Foto bersama mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar dengan narasumber dan moderator Kuliah Umum bertema “Moderasi Agama : Perwajahan Pluralisme dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika, Jumat (13/9/2919) pagi. 

Kuliah Umum Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Bahas Pluralisme

MAKASSAR - Guna memberikan pemahaman pentingnya moderasi agama kepada mahasiswa, Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar menggelar Kuliah Umum bertema “Moderasi Agama : Perwajahan Pluralisme dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika” di ruang Lecturing Theater (LT) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Samata, Gowa pada Jumat (13 September 2019) pagi.

Sebagai narasumber dalam kuliah umum yang diikuti sekitar enam puluh mahasiswa Ilmu Komunikasi ini adalah : Akademisi UIN Alauddin Makassar, Jalaluddin Basyir, S.S., M.A. dan Penyuluh Agama Buddha Non PNS Prov. Sulsel, Miguel Dharmadjie, S.T., CPS® dengan moderator Ketua IMIKI Cabang Makassar, Muhammad Ilham Kahar.

Pembukaan Kuliah Umum dilakukan Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi, Dr. Ramsiah Tasruddin, S.Ag., M.Si. mewakili Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi; dan dihadiri Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi, Dr. Rosmini, S.Ag., M.Th.I.

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Dr. Ramsiah Tasruddin, S.Ag., M.Si. dalam sambutannya mengatakan Indonesia adalah negara yang plural sehingga dibutuhkan konsep yang jelas dan kearifan untuk dapat memahami pluralisme dan kemajemukan yang ada di Indonesia.

“Karena pluralisme sangat dekat dengan kehidupan kita, maka untuk memahami pluralisme perlu dimulai dengan mempraktikkan nilai-nilai toleransi yang dimulai dari diri kita sendiri, “pesan Dr. Ramsiah kepada mahasiswa.

Sementara itu saat diberikan kesempatan menyampaikan materi kami mengatakan  pluralisme adalah suatu kondisi dimana kita dapat hidup berdampingan dalam sebuah komunitas yang memiliki perbedaan dan dapat membuka diri terhadap keragaman yang ada serta dapat belajar secara positif dari keragaman tersebut.

Dan juga dapat mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari tahapan dari toleransi, yaitu : tahu, paham, menerima (toleran) dan keberterimaan (acceptancy).

 “Dasar pokok pluralisme adalah dialog yang bertujuan untuk memahami perbedaan dan meraih suatu pengertian baru yang dapat memperkaya iman kita sendiri. Untuk itu diperlukan komunikasi dan dialog sehingga ketika toleransi dirawat berarti kita menjaga Indonesia. Karena berIndonesia hakikatnya beragama dan beragama hakikatnya Indonesia, “ kata kami yang juga sebagai Penyuluh Informasi Publik (PIP) Prov. Sulsel.

Hal senada disampaikan Akademisi UIN Alauddin Makassar, Jalaluddin Basyir, S.S., M.A. yang mengatakan bahwa komunikasi yang intensif (dialog) atau aktivitas komunikasi lainnya perlu dihadirkan dalam mencegah keterhambatan hubungan sosial yang semakin mencuram keadaannya akibat dari komunikasi interaksional yang gagal.

Usai pemaparan materi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diakhiri dengan foto bersama para mahasiwa peserta kuliah umum dengan narasumber dan moderator.

Citizen Reporter, Miguel Dharmadjie, S.T., CPS® Penyuluh Agama Buddha Non PNS Prov. Sulsel

Penulis: CitizenReporter
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved