Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tambah Penghasilan, Petani Karawang Panen Padi Lanjut Tanam Kedelai

Tambah Penghasilan, Petani Karawang Panen Padi Lanjut Tanam Kedelai. Hasilnya sangat memuaskan

Editor: Waode Nurmin
Kementan
Tambah Penghasilan, Petani Karawang Panen Padi Lanjut Tanam Kedelai 

TRIBUN-TIMUR.COM -- Selain mampu berproduksi beras, Kabupaten Karawang nyatanya mampu berproduksi tanaman pangan lainnya yaitu Kedelai, bahkan hasilnya pun sangat memuaskan petani dengan harganya.

Tercatat, dalam setahun, Karawang mampu bertanam kedelai seluas 1730 hektar dan hingga Agustus sudah terealisasi mencapai 552 hektar.

"Disaat musim kemarau seperti ini, petani bisa mengupayakan jangan sampai ada tanah yang menganggur. Disini dilanjutkan tanam kedelai," demikian ungkap Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi didampingi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karawang, Hanafi pada kegiatan pertanaman kedelai setelah panen padi di Kelompok Tani (Poktan) Sri Rahayu di Kampung Waluya Desa Kertawaluya Kecamatan Tirta Mulya Kabupaten Karawang, Kamis (29/8).

Petani biasa menggunakan kedelai varietas Ns Karawang dan Anjasmoro untuk kedelai. Untuk diketahui, varietas Ns Karawang merupakan varietas lokal Karawang yang memiliki keunggulan karena bentuknya besar, rasanya gurih dan produksinya tinggi, sehingga petani Karawang bisa memanen muda untuk dijadikan kedelai rebus.

"Bila dibandingkan dengan kedelai lainnya yang mencapai 80-90 hari usia tanam, Ns Karawang hanya 72 hari. Untuk produktivitas hasil per hektar dapat mencapai 2,6 ton, itupun tergantung cara pengolahannya," terang Suwandi.

Ketua Poktan Sri Rahayu, Kardi menuturkan pola bertanam padi-padi-palawija sudah biasa dilakukannya sejak tahun 1990an.

"Setelah panen gadu, ada waktu bera sehingga petani memanfaatkan waktu tersebut dengan tanam kedelai sejak tahun 1990an sampai sekarang," tuturnya.

Bertanam palawija seperti kedelai ini diakui Kardi jauh lebih bisa menghemat air karena tidak membutuhkan tanah becek. Asal tanah masih lembab, bisa ditebar atau ditugal dengan benih kedelai.

Dengan varietas NS Karawang, lanjut Kardi, petani merasakan banyak manfaat. Mulai dari usia panen yang pendek dan bisa dipanen muda. Rasanya lebih manis dan besar-besar dibandingkan Anjasmoro, bahkan mirip dengan edamame.

"Kalau dulu dipanen tua terus. Kalau sekarang panen muda (brangkasan) sebab lebih menguntungkan dari hasilnya," tuturnya.

Kardi membeberkan jika dipanen tua (pipilan kering) hanya dihargai Rp 7.500 per kilogram, namun bobot panennya hanya 1,5 ton sampai 2 ton saja. Dibandingkan dengan brangkasan yang hanya Rp 2000-3000 per kilogram sedangkan bobotnya mencapai 15 ton per hektar.

"Penghasilannya bisa mencapai Rp 30 juta per hektarnya. Kita serahkan kepada petani mau panen muda apa panen tua. Panen muda usia 55-60 hari sedangkan panen tua mencapai 70-75. Enggak sampai kuning," terangnya.

Ia menjelaskan permintaan brangkasan tersebut datang dari luar Karawang sehingga petani kedelai menyetor ke pengepul untuk kemudian dijual ke Pasar Induk Cibitung, Rengasdengklok dan wilayah lainnya di luar Karawang.

Mengenai benih, Kardi menuturkan tidak ada kesulitan benih sebab sudah ada penangkar benih lokal yang siap menyediakan kebutuhan benih petani.

"Khusus untuk penangkar benih kedelai Ns Karawang, sudah ada pak H. Ramdhani. Biasanya perbenihan kedelai dilakukannya saat petani tanam padi. Sehingga saat waktunya tanam kedelai sudah ada," jelasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved