OPINI

OPINI - Radikalisme Dulu, Radikalisme Kini

Di zaman now, radikalisme digerakkan untuk mengganti asas negara. Targetnya, penegakan sistem khilafah dengan beragam argumen.

OPINI - Radikalisme Dulu, Radikalisme Kini
Abdul Karim 

Oleh:
Abdul Karim
Sekretaris Umum PW Lakpesdam NU Sulsel

Persoalan bangsa yang selalu mencemaskan, mengerikan dan tak kunjung efektif penanganannya adalah radikalisme. Sejarahnya cukup panjang.

Tetapi disini, saya tak berusaha mengurai secara detil sejarah itu. Saya hanya sekedar berupaya mengajak pembaca melihat bagaimana fenomena radikalisme di dua masa; Orde baru dan jaman kini.

Pertama, radikalisme tumbuh pasca kerusuhan tanjung priuk 1984. Radikalisme dilancarkan sebagai respon terhadap rezim represif Orba. Orientasinya belum secara gamblang mengganti asas negara.

Yang mengemuka adalah perlawanan terbuka pada rezim Orba yang kala itu dianggap ‘memusuhi’ kelompok Islam. Tetapi di sinilah bibit radikalisme itu tersemai.

Di zaman now, radikalisme digerakkan untuk mengganti asas negara. Targetnya, penegakan sistem khilafah dengan beragam argumen.

Demokrasi sebagai sistem bernegara dan berbangsa dianggap “haram” dan dituduh sebagai biang kerok kegagalan membangun bangsa.

Disinilah kekeliruan kelompok radikal itu, cenderung menganggap demokrasi sebagai sistem yang tak dapat diinterpretasi, tak boleh dikreasi ketika belum efektif penegakannya.

Kedua, radikalisme di zaman Orba hanya berputar pada segelintir pihak, itupun sangat eksklusif sifatnya. Nyaris tak ada ruang yang dapat menjadi tempat menyuburkan bibit-bibitnya.

Namun dizaman kini, segala ruang tersedia sebagai wadah menyuburkannya lengkap dengan segala pupuknya.

Halaman
1234
Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved