Tribun Wiki
TRIBUNWIKI: Ini Profil Idik Sulaeman, Sosok Pemberi Nama Paskibraka
Mereka yang mengibarkan merupakan putra putri Indonesia terpilih dengan kategori tertentu.
Penulis: Desi Triana Aswan | Editor: Ina Maharani
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Upacara 17 Agustus yang dikenal sebagai hari kemerdekaan Indonesia, sangat identik dengan adanya Paskibraka.
Paskibraka merupakan singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.
Mereka yang mengibarkan merupakan putra putri Indonesia terpilih dengan kategori tertentu.
Namun, tahukah anda? nama Paskibraka tidak semerta merta langsung dicetuskan.
Pasalnya, dari sumber-sumber sejarah ternyata istilah Paskibraka telah beberapa kali diganti.
Dilansir dari Tribunnews, formasi Paskibraka 17-8-45 merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 (17-8-45).
Pada waktu itu dengan situasi kondisi yang ada, Mutahar hanya melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas pengibaran bendera pusaka.
Tertulis di wikipedia, rencana semula, untuk kelompok 45 (pengawal) akan terdiri dari para mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI) namun tidak dapat dilaksanakan.
Usul lain menggunakan anggota pasukan khusus ABRI (seperti RPKAD, PGT, KKO, dan Brimob) juga tidak mudah.
Akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang mudah dihubungi karena mereka bertugas di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta.
Mulai 17 Agustus 1968, petugas pengibar bendera pusaka adalah para pemuda utusan provinsi.
Tetapi karena belum seluruh provinsi mengirimkan utusan sehingga masih harus ditambah oleh eks-anggota pasukan tahun 1967.
Pada 5 Agustus 1969, di Istana Negara Jakarta berlangsung upacara penyerahan duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan reproduksi Naskah Proklamasi oleh Suharto kepada Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I seluruh Indonesia.
Bendera duplikat (yang terdiri dari 6 carik kain) mulai dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka pada peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka Jakarta, sedangkan Bendera Pusaka bertugas mengantar dan menjemput bendera duplikat yang dikibar/diturunkan.
Mulai 1969 itu, anggota pengibar bendera pusaka adalah para remaja siswa SLTA se-tanah air Indonesia yang merupakan utusan dari seluruh provinsi di Indonesia, dan tiap provinsi diwakili oleh sepasang remaja putra dan putri.
Istilah yang digunakan dari 1967 sampai 1972 masih Pasukan Pengerek Bendera Pusaka. Baru pada 1973, Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan Paskibraka.
PAS berasal dari PASukan, KIB berasal dari KIBar mengandung pengertian pengibar, RA berarti bendeRA dan KA berarti PusaKA. Mulai saat itu, anggota pengibar bendera pusaka disebut Paskibraka.
Siapa Idik Sulaeman?
Dilansir dari wikipedia, H. Idik Sulaeman Nataatmadja, AT biasa dipanggil dengan Idik Sulaeman
Ia lahir di Kuningan, Jawa Barat, Indonesia, 20 Juli 1933.
Ia adalah pencetus nama Paskibraka.
Adik didik Husein Mutahar di kepanduan ini jugalah yang menyempurnakan seluruh kelengkapan Paskibraka sebagai sebuah Korps, mulai dari sistem/metode pelatihan, silabus, atribut dan kelengkapannya.
Riwayat Hidup
Idik menghabiskan masa kecil di daerah kelahirannya (Kuningan) hingga kemudian Ia tamat SMP di Purwakarta dan pindah ke Jakarta saat masuk SMA.
Sejak kecil, jiwa seni sudah terlihat dalam dirinya.
Tak heran bila setamat SMA Idik memilih seni rupa sebagai pilihan profesinya dengan menamatkan pendidikan dengan gelar Sarjana Seni Rupa di Departemen Ilmu Teknik Institut Teknologi Bandung (kini termasuk Fakultas Seni Institut Teknologi Bandung) pada 9 April 1960.
Idik Sulaeman memulai kariernya di Balai Penelitian Tekstil (1960-1964).
Pada 1 Februari 1965 ia diangkat menjadi Kepala Biro Menteri Perindustrian dan Kerajinan yang saat itu dijabat Mayjen TNI dr. Azis Saleh.
Dunia seni dan tekstil harus ditinggalkan ketika Idik pindah kerja ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) sebagai Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan pada 1 Desember 1967.
Saat inilah, ia banyak membantu Husein Mutahar dalam mewujudkan gagasannya membentuk Paskibraka.
Bersama dengan para pembina lainnya, Idik membantu Mutahar menyempurnakan konsep pembinaan Paskibraka.
Pasukan yang pada tahun 1966 dan 1967 diberi nama Pasukan Pengerek Bendera Pusaka, pada tahun 1973 mendapat nama baru yang dilontarkan oleh Idik.
Nama itu adalah PASKIBRAKA, yang merupakan akronim dengan kepanjangan PASuKan PengIBar BendeRA PusaKA.
Selain memberi nama, Idik juga menyempurnakan wujud Paskibraka dengan menciptakan Seragam Paskibraka, Lambang Korps, Lambang Anggota, serta Tanda Pengukuhan berupa Lencana Merah-Putih Garuda (MPG) dan Kendit Kecakapan.
Pada 30 Juni 1975, ia diangkat menjadi Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pembinaan Kegiatan di Direktorat Pembinaan Generasi Muda (Ditbinmud).
Pada 9 Maret 1977, ia mencapai posisi puncak di Ditbinmud setelah ditunjuk sebagai Pelaksana Harian Direktur Pembinaan Generasi Muda, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga (Ditjen PLSOR).
Tiga tahun penuh ia benar-benar menjadi ”komandan” dalam latihan Paskibraka, yakni Paskibraka 1977, 1978 dan 1979.
Pada 24 November 1979, Idik ditarik ke Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) dan menjabat Direktur Pembinaan Kesiswaan sampai 15 November 1983.
Selama empat tahun itu, dengan latar belakang pendidikan seni rupa dan pengalaman kerja di bidang tekstil, Idik mencatat sejarah dalam penciptaan seragam sekolah yang kita kenal sampai sekarang: SD putih-merah, SMP putih-biru dan SMA putih-abu-abu, lengkap dengan lambang sekolah dasar (SD) dan OSIS yang kini selalu melekat di saku kiri seragam sekolah.
Kehidupan Pribadi
Idik menikah dengan Aisah Martalogawa pada 29 Oktober 1961, Idik dikaruniai tiga anak, yakni Ir. Ars Isandra Matin Ahmad (yang beristrikan Ir.ars Retno Audite), Isantia Dita Asiah (yang bersuamikan Drs. Mohammad Imam Hidayat), dan Dra Isanilda Dea Latifah yang bersuamikan Ari Reza Iskandar).
Dari ketiganya, Idik memiliki tujuh orang cucu, 3 cucu laki-laki dan 4 cucu perempuan.
Idik meninggal pada 4 April 2013 di Jakarta. Jasa-jasanya juga sangat luar biasa dalam penerbitan buku-buku pramuka di Indonesia.
Data diri:
Nama: H. Idik Sulaeman Nataatmadja
Nama Lengkap: Idik Sulaeman
Lahir: Kuningan, Jawa Barat, Indonesia, 20 Juli 1933
Meninggal: 4 April 2013 di Jakarta
Anak: Ir. Ars Isandra Matin Ahmad (yang beristrikan Ir.ars Retno Audite)
Isantia Dita Asiah (yang bersuamikan Drs. Mohammad Imam Hidayat)
Dra Isanilda Dea Latifah yang bersuamikan Ari Reza Iskandar)
Pasangan: Aisah Martalogawa
Pendidikan: Seni Rupa di Departemen Ilmu Teknik Institut Teknologi Bandung
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/idik-sulaeman.jpg)