Pernah Mondok di Pesantren, Benarkah Taruna Akmil Enzo Terpapar Paham Radikal? Ini Kata Mabes TNI

Setelah beritanya viral, beredar postingan di media sosial soal Enzo Zenz Allie diduga terpapar organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia.

Pernah Mondok di Pesantren, Benarkah Taruna Akmil Enzo Terpapar Paham Radikal? Ini Kata Mabes TNI
Youtube TNI AD
Pernah Mondok di Pesantren, Benarkah Taruna Akmil Enzo Terpapar Paham Radikal? Ini Kata Mabes TNI 

TRIBUN-TIMUR.COM-Setelah beritanya viral, beredar postingan di media sosial soal Enzo Zenz Allie diduga terpapar organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia.

Diketahui Enzo Zens Allie juga pernah mondok di salah satu pesantren di Serang, Banten.

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Sisriadi mengatakan pihaknya menerima informasi yang beredar baik dari Facebook dan masyarakat soal Enzo.

Ia menegaskan TNI sudah memiliki prosedur operasi standar (SOP), tidak hanya Enzo tapi semua calon taruna, tahap satu sampai tahap empat diawasi.

Baca: Ditolak Tamtama AL karena Nilainya Terlalu Tinggi, Yusuf Maulana Justru Lolos Menjadi Taruna Akmil

Baca: Kenalkan Dewi Okta Pusparini Taruni Terbaik Akmil 2019 Calon Jenderal RI, Inilah Kelebihannya

Baca: Danrem 142 Tatag Tatap Muka dengan Orang Tua Calon Taruna Akmil Sub Panda Mamuju

"Secara prosuder kita punya SOP. Sampai tingkat empat kita telusuri. SOP kita begitu. Kodim, Koramil dilibatkan untuk meneliti orangtuanya dan keluarganya," ungkap Sisriadi saat dihubungi TribunJakarta.com pada Rabu (7/8/2019).
Ananda Enzo saat diwawancarai Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto.
Ananda Enzo saat diwawancarai Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto. (INSTAGRAM.COM/@TNILOVERS18)
"Sampai tingkat empat tidak putus namanya pengawasan ini. Kalau ada prajurit taruna yang tidak Pancasilais,  ketemu lalu dikeluarkan. Ini kan masih awal, kita dalami betul dan kita tidak buru-buru," ia menambahkan.

SOP untuk menelusuri latar belakang calon taruna atau yang sedang berproses dalam pendidikan perwira tidak lepas dari pengawasan.

Pengawasan yang dimaksud berlangsung secara periodik dengan melibatkan intelijen dan aparatur teroterial seperti dari Kodim, Koramil, dan BAIS TNI.

"Ini sudah berjalan sejak mereka diterima," beber Sisriadi. "Kita mesti pelan-pelan dan serius menangani ini. Jangan sampai TNI dirugikan dan dia juga dirugikan."

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Sisriadi, Mabes TNI akan membentuk Tim Bantuan Hukum yang akan bekerjasama dengan Tim Penasehat Hukum Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen, di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (22/7/2019). TRIBUNNEWS.COM/PUSPEN TNI
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Sisriadi.

Dikatakan Sisriadi, ada sejumlah seleksi untuk menjadi taruna di antaranya seleksi administrasi, kesehatan, jasmani, kepribadian melalui psikotes, akademis, terakhir dan yang paling penting adalah mental ideologi.

Terkait Enzo, dari semua seleksi di atas yang bersangkutan lulus menjadi calon Taruna Akmil.

"Namun kami juga punya sistem penyaringan lagi. Jadi, orang-orang yang sedang di dalam pendidikan, terutama pendidikan perwira itu juga terus kita dalami, karena kami di TNI tidak ingin tersusupi oleh orang-orang yang memiliki paham radikal," jelas Sisriadi.

Sisriadi menjelaskan radikal yang dimaksud ada tiga, yakni radikal kiri, radikal kanan dan radikal lainnya seperti ultraliberalis.

Halaman
1234
Editor: Anita Kusuma Wardana
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved