OPINI

OPINI - PSM vs Persija

Penulis adalah Staf Pengajar di Indonesia Community Center (ICC) Johor Bahru, Malaysia

OPINI - PSM vs Persija
tribun timur
Staf Pengajar di Indonesia Community Center (ICC) Johor Bahru, Malaysia

Para penonton tuan rumah menyambut baik kedatangan penggawa Persis dengan ramah. Mereka bertempik-sorak mengelu-elukan nama penggawa Persis.

Kendati kalah telak dengan skor 5-0, suporter Persebaya tetap sportif dalam mengakui keperkasaan tim tamu. Bahkan mereka turut memberikan aplaus pada Persis.

Sebaliknya, meski berhasil menjadi jawara, bond asal Solo tersebut juga enggan jemawa.

Bahkan, Persis dengan segala kerendahan hati, hendak mengundang Persebaya ke Stadion Sriwedari untuk menggelar laga uji tanding pada tanggal 18 Juli 1942.

Pelbagai fakta historis di atas kiranya dapat menjadi bahan muahasabah untuk berbenah. Mentalitas suporter dalam memaknai rivalitas harus segera diubah.

Stigma pandir harus lekas disingkir. Suporter harus mewawas diri bahwa pengejawantahan rivalitas harus berorientasi pada prestasi –bukan saling melukai, mencederai, ataupun mencaci.

Baca: Empat Tenaga Kesehatan Kabupaten Wajo Ikut Lomba Tingkat Provinsi

Persaingan cukup diwujudkan selama 90 menit dengan adu kreasi di tribune.

Selepasnya, suporter harus kembali baku peluk dan baku jabat dalam kelindan persaudaraan.

Akar sejarah persepakbolaan Indonesia yang sarat akan nilai kejuangan dapat dijadikan alat untuk menempatkan sepak bola sebagai penggalang persatuan.

Sepak bola seyogianya dieksekusi sebagaimana khitahnya, yaitu sebagai olahraga.

Sepak bola harus kembali pada muruahnya, yakni sebagai pemersatu bangsa. Semoga PSM dan Persija dapat mencontohkannya! (*)

Catatan: tulisan ini telah terbit di Tribun Timur edisi cetak, Selasa (06/08/2019)

Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved