Dewan Pengarah Komunitas Sepanjang Perjalanan Pinrang Sebut Oknum Perazia Buku Tak Bijak

Komunitas literasi Sepanjang Perjalanan Pinrang turut angkat bicara merespon razia buku di salah satu toko buku di Makassar

Dewan Pengarah Komunitas Sepanjang Perjalanan Pinrang Sebut Oknum Perazia Buku Tak Bijak
TRIBUN TIMUR/HERY SYAHRULLAH
Komunitas literasi Sepanjang Perjalanan Pinrang 

TRIBUNPINRANG.COM, DUAMPANUA - Komunitas literasi Sepanjang Perjalanan Pinrang turut angkat bicara merespon razia buku Marxisme dan Leninisme di salah satu toko buku di Makassar, belum lama ini.

Salah seorang Dewan Pengarah Sepanjang Perjalanan Muh Dirman Rasyid mengatakan, aksi razia buku yang dilakukan kelompok atau organisasi tertentu itu bukanlah hal yang bijak.

Menurutnya, tindakan itu justru menampakkan bahwa mereka kurang memahami hukum secara komprehensif dan hanya memahami hukum secara parsial.

Baca: Stagas TMMD ke-105 Rintis Jalan Pemukiman Baru di Mattiro Ade Pinrang Sejauh 350 Meter

Baca: Asisten Teritorial Kodam XIV/Hasanuddin Kunjungi Lokasi TMMD di Pinrang

Baca: Dishub Pinrang Tertibkan Kendaraan Bak Terbuka

"Memang benar adanya TAPMRS No. 25 tahun 1966, tetapi jika itu dijadikan landasan legalitas dari razia, saya rasa kurang tepat karena mestinya yang melalukan razia itu penegak hukum. Terlebih MK menyatakan pelarangan buku harus melalui proses pengadilan," katanya saat dikonfirmasi TribunPinrang.com, Selasa (6/8/2019).

Dirman menyebutkan, mungkin saja maksud dari razia tersebut baik, namun langkah preventif terhadap paham komunis itu kurang tepat. Justru dengan viralnya razia tersebut menjadikan masyarakat bersimpati dengan hal itu.

"Mestinya, ide atau gagasan haruslah dilawan dengan ide dan gagasan pula," jelasnya.

Jika memang buku itu dianggap berbahaya, lanjut Dirman, mungkin lebih bijak meng-counter-nya dengan menerbitkan buku sebagai antitesa.

"Bisa juga dengan melakukan bedah buku atau kajian ilmiah terhadap buku tersebut," tegasnya.

Dirman menambahkan, kegiatan ilmiah mempelajari paham komunisme/marxisme-lininisme dalam rangka mengamalkan Pancasila itu tidak bertentangan dengan aturan. Sebab, hal tersebut termaktub dalam Pasal 4 TAPMPRS No 25 tahun 1966.

"Sangat disayangkan di bulan kemerdekaan ini justru diawali dengan berita yang mencederai kemerdekaan berpikir, berpendapat dan berkarya," pungkasnya. (TribunPinrang.com)

Laporan Wartawan TribunPinrang.com, @herysyahrullah

Baca: Ingat 3 Hari Lagi Puasa Tarwiyah lalu Arafah, Ini Jadwalnya! Ini Keutamaannya Masuk Idul Adha 1440 H

Baca: Bawaslu Sulsel Sebut Regulasi PKPU Tak Matang, APK dari KPU Pemborosan

Baca: Video Viral Polisi Lalu Lintas Sumpal Mulut Wanita Pakai Surat Tilang, Cek Fakta dan Kata Komandan

Baca: Selingkuh dengan PM Malaysia Najib Razak, Model Altantuya Shaaribuu Dibom, Kisah dan Dugaan Motif

Baca: KENALKAN Inilah Sripeni Inten, Bos Besar PLN Baru 2 Hari Menjabat Sudah Dimarahi Presiden Jokowi

Follow akun instagram Tribun Timur:

Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:

E

Baca: Diduga Jerumuskan Salmafina Sunan Lepas Hijab dan Bawa ke Klub, Siapa Joe? Disomasi Sunan Kalijaga

Baca: Kenalkan Ananda Enzo Cowok Berdarah Perancis Lolos Masuk Akmil, Calon Jenderal TNI Masa Depan?

Baca: Mati Lampu, Kronologi Pengantin Baru Tewas Terbakar di Rumahnya

Baca: Suami Mudik, Nur Aini Tewas Diduga Saat Sedang Berzina dengan Rofii, Begini Kronologi Kejadian

Baca: Niat Puasa Sunnah dan Arafah di Bulan Dzulhijjah Jelang Idul Adha, Sungguh Banyak Keutamaannya

Penulis: Hery Syahrullah
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved