Kontes Waria Mulai Dapat Perhatian dari Anggota DPRD Kabupaten Wajo

Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Wajo, Ahsanul Hak Nawawi mengatakan kehadiran waria tidak bisa dilepaskan dalam perspektif kebudayaan Bugis, termasuk di

Kontes Waria Mulai Dapat Perhatian dari Anggota DPRD Kabupaten Wajo
Hardiansyah Abdi Gunawan/Tribun Timur
Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Wajo, Ahsanul Hak Nawawi. 

TRIBUN-WAJO.COM, SENGKANG - Citra Kota Sengkang sebagai Kota Santri tercoreng dengan perhelatan kontes waria. Hal tersebut pun menuai polemik.

Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Wajo, Ahsanul Hak Nawawi mengatakan kehadiran waria tidak bisa dilepaskan dalam perspektif kebudayaan Bugis, termasuk di Kabupaten Wajo.

Telkomedika Hadirkan Klinik Vaksin di Makassar

RAMALAN ZODIAK Kamis 1 Agustus 2019 Besok, Scorpio Emosi, Aries bak Raja & Cancer Minder

Perjalanan Karier Kadishub Toraja, Dari Jurnalis Hingga Wakili Pemerintah Indonesia ke Australia

Rey Utami Istri Pablo Benua Nangis Bertemu Anaknya, Ranny Kaka Fairuz: Buat Vlog Tak Pikirkan Anak

Final Liga Indonesia PSM vs Persija, Polrestabes Makassar Terapkan Pengamanan Tiga Ring

"Keberadaan waria di Wajo dalam perspektif budaya dan adat tetap mendapat pengakuan secara turun temurun, itu dibuktikan sering dilibatkannya dalam acara pesta budaya atau adat atau acara kemasyarakatan," katanya kepada Tribun Timur, Rabu (31/7/2019).

Lebih lanjut, politisi Partai Golkar tersebut menambahkan, untuk perhelatan kontes adu busana waria mesti mengikuti norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Terlebih, Sengkang dikenal sebagai Kota Santri.

"Ini perlu disikapi secara arif dan mentaati norma hukum dan terlebih nilai-nilai agama khususya di Wajo yang terlabelkan dengan Kota Santri," katanya.

Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Wajo, Ahsanul Hak Nawawi.
Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Wajo, Ahsanul Hak Nawawi. (Hardiansyah Abdi Gunawan/Tribun Timur)

"Terlebih lagi dengan visi misi Pemkab Wajo menjadikan daerah ini daerah menjunjung nilai relegius," sambungnya.

Kontes waria tersebut dihadiri oleh istri Bupati Wajo, Siti Maryam berlangsung tanpa izin di Sengkang, Kabupaten Wajo, Senin (29/7/2019) malam lalu. Sebab, si empu hajatan, Haji Fendi mengemasnya dalam kenduri syukuran pindah rumah baru.

Diketahui, bagi masyarakat Bugis, ada 5 jenis gender yang diakui, yakni makkunrai' (perempuan), burane' (laki-laki), calabai (laki-laki menyerupai perempuan), calalai (perempuan menyerupai laki-laki), dan bissu. (TribunWajo.com)

Laporan wartawan Tribun Timur @dari_senja

Langganan Berita Pilihan 
tribun-timur.com di Whatsapp 
Via Tautan Ini http://bit.ly/watribuntimur

Follow akun instagram Tribun Timur:

Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:
Penulis: Hardiansyah Abdi Gunawan
Editor: Syamsul Bahri
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved