Sebulan, Polres Gowa Ungkap Dua Kasus Penggelapan Dana Nasabah BRI

Satu kasus pada BRI Unit Malakaji pada 19 Juli 2019, serta satu kasus lainnya pada BRI Unit Bontoramba Cabang Takalar, pada 23 Juli 2019.

Sebulan, Polres Gowa Ungkap Dua Kasus Penggelapan Dana Nasabah BRI
Tribun Timur
Kepala cabang BRI di Gowa 

TRIBUN-TIMUR.COM, SUNGGUMINASA - Polres Gowa berhasil mengungkap dua kasus penggelapan dana nasabah Bank BRI dalam kurun waktu tak cukup sebulan.

Dua kasus penggelapan dana nasabah ini ditemukan pada dua bank dengan kasus yang berbeda.

Baca: Begini Kronologis Terungkapnya Penggelapan Dana oleh Kepala BRI di Gowa

Baca: Kepala Unit Bank BRI Malakaji Ditangkap Polres Gowa, ini Kasusnya

Baca: Sebelum jadi Karyawan BRI, Basiruddin Sudah Keranjingan Judi

Satu kasus pada BRI Unit Malakaji pada 19 Juli 2019, serta satu kasus lainnya pada BRI Unit Bontoramba Cabang Takalar, pada 23 Juli 2019.

Polisi menahan dua orang tersangka. Pertama Basiruddin Nurdin (43). Warga Jeneponto ini merupakan Kepala Bank BRI Unit Malakaji.

Basiruddin menggelapkan dana nasabah Bank BRI Unit Malakaji senilai Rp 784.100.000.

Satu tersangka lainnya, yakni Prayudi Lessy Bin Abdullah Lessy (33). Ia merupakan marketing yang menggelapkan uang nasabah Bank BRI Unit Bontoramba.

Jumlah uang yang digelapkan Prayudi mencapai Rp 160.535.990.

Polisi menyebut, Prayudi melibatkan 20 orang lainnya yang diajak bekerja sama dalam pengajuan Kredit Usaha Rakyat fiktif. Hasil iuran itu tidak disetorkan ke bank.

"Kita akan segera identifikasi dan dalami seiring dengan keterlibatan pihak lain yang ikut menikmati hasil," kata Kapolres Gowa, AKBP Shinto Silitonga, Senin (29/7/2019).

Perwira polisi dengan pangkat dua melati ini menegaskan, tindakan penggelapan uang nasabah merupakan bentuk perbuatan melawan hukum.

Untuk itu, pihaknya akan memberikan tegas sesuai prosedur hukum yang berlaku. Polisi juga berjanji mengungkap kasus dan pelaku lainnya.

"Hingga saat ini, Polres Gowa akan terus mendalami perkara ini, khususnya perihal adanya keterlibatan dari pelaku lain," ujar AKBP Shinto Silitonga.

Kedua tersangka masing-masing dijerat dengan persangkaan yang sama. Pasal 49 ayat (1) dan (2) UU RI Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas UU RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan atau Pasal 374 KUHP tentang Penggelapan dalam jabatan.

"Tersangka akan diancam pidana penjara sekurng-kurangnya 5 tahun dan paling lama 15 tahun dengan denda sekurang-kurangnya Rp. 10 Milyar," tutup AKBP Shinto Silitonga.

Laporan Wartawan Tribun Timur Ari Maryadi

Penulis: Ari Maryadi
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved