Citizen Reporter

Delegasi ENJ UNM Ajarkan Calistung Pada Penderita Disleksia di Selayar

Delegasi ENJ UNM 2019 melalui divisi pendidikannya pun mengajarkan Baca, Tulis, dan Berhitung (Calistung) pada anak-anak di Pulau Gusung, Selayar

Delegasi ENJ UNM Ajarkan Calistung Pada Penderita Disleksia di Selayar
Dok Tim ENJ UNM 2019
Delegasi Ekspedisi Nusantara Jaya Universitas Negeri Makassar (ENJ UNM) 2019 melalui divisi pendidikannya pun mengajarkan Baca, Tulis, dan Berhitung (Calistung) pada anak-anak di Pulau Gusung, Desa Bontolebang, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar. 

Laporan Citizen reporter, Noval Kurniawan dari Kepulauan Selayar

KEPULAUAN SELAYAR - Keterlambatan membaca, menulis, dan berhitung pada anak usia Sekolah Dasar (SD) menjadi permasalahan besar bagi orang tua karena khawatir dan malu bila disangka tidak dapat mengajarkan anaknya.

Sedangkan di sisi lain, kondisi psikis anak juga terganggu lantaran sering kali mendapatkan cemooh dari teman sebayanya.

Melihat kondisi ini, Delegasi Ekspedisi Nusantara Jaya Universitas Negeri Makassar (ENJ UNM) 2019 melalui divisi pendidikannya pun mengajarkan Baca, Tulis, dan Berhitung (Calistung) pada anak-anak di Pulau Gusung, Desa Bontolebang, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar.

Koordinator ENJ UNM Divisi Pendidikan, Andi Muhammad Fikran menjelaskan terkait dengan Calistung sendiri adalah upaya untuk memberantas penyakit disleksia, khususnya di pulau Gusung.

"Penyakit disleksia ini sebenarnya bukan karena anak bodoh, kurang motivasi, ataupun faktor ekonomi. Namun karena mereka mengalami kesulitan dalam berbahasa, khususnya di bidang membaca, menulis, dan berhitung," jelas mahasiswa Fakultas Psikologi UNM ini, pada Senin (29/7/2019).

Lebih lanjut, Koordinator Umum ENJ UNM 2019, Noval Kurniawan menuturkan bahwa dalam prosesnya, ada banyak cara untuk mengenali tanda-tanda dari penyakit ini, misalnya saja ketika membaca, anak cenderung lambat dan terputus-putus serta tidak tepat, kebingungan atas konsep alfabet dan simbol, kesulitan mengingat rutinitas aktivitas sehari-hari, dan banyak lagi tanda lainnya.

"Solusi dari permasalahan di atas bisa dengan remedial atau pengulangan secara terus-menerus termasuk penanganan akomodasi yakni memenuhi kebutuhan khusus penyandang disleksia. Ujian untuk penyandang disleksia bisa diberikan dengan waktu yang lebih longgar dan soalnya dicetak dengan huruf yang tidak terlalu rapat," tuturnya. (*)

Penulis: Chalik Mawardi
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved