Dari FGD Wisata Walal Makassar: Halal Industri Bukan Islamisasi Industri

FGD Pengembangan Wisata Halal Dinas Pariwisata Pemerintah Kota Makassar di Ballroom Hotel Aston, Jl Sultan Hasanuddin, Makassar

Dari FGD Wisata Walal Makassar: Halal Industri Bukan Islamisasi Industri
TRIBUN TIMUR/MUH HASIM ARFAH
Dinas Pariwisata Pemerintah Kota Makassar menggelar pelaksanaan koordinasi pembangunan kemitraan pariwisata "FGD Pengembangan Halal" di Ballroom Hotel Aston Lantai 18, Jl Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulsel, Selasa (23/7/2019). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pemateri Focus Discussion Group (FGD) Pengembangan Wisata Halal Dinas Pariwisata Pemerintah Kota Makassar di Ballroom Hotel Aston, Jl Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulsel, Selasa (23/7/2019).

Hadir pemateri FGD, Raudhatul Jannah Syarief, anggota tim gubernur untuk percepatan pembangunan di DKI Jakarta.

Menurutnya, pariwisata halal itu bukan syariah, wisata halal bersikap ramah terhadap wisatawan.

Baca: Bakal Calon Wali Kota Makassar Gagal di Uji Kompetensi Capim KPK, Cek Nama yang Lolos & dari Sulsel

Baca: Puluhan Remaja ‘PINTAR’ Se-Indonesia Kumpul di Makassar, Bahas Desa Ramah Anak

Baca: Innalillah, JCH Kloter 4 Embarkasi Makassar Meninggal di Tanah Suci

"Aspek, akses, dan fasilitas sesuai dengan kebutuhan wisatawan. Kita menyediakan fasilitas dan aspek standar halal. Pergub wisata halal DKI, tak ada muncul syariah," katanya.

Ia mengatakan, halal industri bukan islamisasi industri.

"Tetap menjual alkohol dan babi, tinggal dipisahkan tempatnya. Thailand menjadi pusat dapur halal dunia karena menunjukkan dan sosialisasi ke wisatawan. Jadi komunikasi itu penting, sehingga perlu ada namanya standarisasi," katanya.

Terpisah, Wali Kota Makassar, Iqbal Suhaeb mengatakan, FGD Pengembangan Wisata Halal adalah awal menuju Makassar wisata halal.

Iqbal menjelaskan, perlu ada kesepahaman dulu dengan para pemangku kepentingan, masyarakat dan pemerintah.

"Nah, kalau sepaham baru kita bikin regulasinya," katanya. (*)

Identitas Makassar
-Geografis, kepulauan terletak di garis ekuator, jalur perdagangan nasional dan internasional dan pusat ekonomi di Timur Indonesia.

Halaman
123
Penulis: Muh. Hasim Arfah
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved