Citizen Reporter

Dari Munas FKP LPP RRI: RRI Harus Lebih Aktif, Kreatif, dan Produktif

Munas Forum Komunikasi Pemerhati (FKP) LPP RRI, di Bandar Lampung, Lampung, Kamis malam, 18 Juli 2019.

Dari Munas FKP LPP RRI: RRI Harus Lebih Aktif, Kreatif, dan Produktif
CITIZEN REPORTER/RUSDIN TOMPO
Munas Forum Komunikasi Pemerhati (FKP) LPP RRI, di Bandar Lampung, Lampung, Kamis malam, 18 Juli 2019. 

Rusdin Tompo, Wakil Ketua FKP LPP RRI Pusat Melaporkan dari Bandar Lampung, Lampung

Di tengah serbuan dan limpahan informasi, RRI memilih lebih aktif, kreatif dan produktif. Di antaranya dengan membuat platform digital agar masyarakat mudah mengakses program-program siaran, seperti RRI Play dan radio vidual RRI Net yang taglinenya "Tonton yang Anda Dengar".

"RRI tidak mau dan tidak boleh tumbang. Karena itu, RRI terbuka menerima masukan dari berbagai kalangan, termasuk FKP RRI," demikian dikemukakan Soleman Yusuf.

Direktur Program dan Produksi Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI), saat memberikan sambutan penutupan dalam Musyawarah Nasional (Munas) Forum Komunikasi Pemerhati (FKP) LPP RRI, di Bandar Lampung, Lampung, Kamis malam, 18 Juli 2019.

Soleman menambahkan, sekarang ini era keberlimpahan informasi, di mana sangat mungkin penyiar dan reporter manusia digantikan oleh penyiar virtual atau reporter robotik.

Dalam situasi seperti itu, semua bidang kerja, termasuk radio, menghadapi lawan-lawan yang tidak kelihatan. Ini yang membuat banyak perusahaan besar tumbang meski mereka tidak lakukan kesalahan.

Karena itu RRI berharap ada sumbangsih pemikiran, ide dan kritik dari pengurus FKP Pusat, periode 2019-2024, yang baru terpilih. FKP, kata Soleman, perlu mendorong masyarakat untuk mengunduh RRI Play Go.

"Jika bisa dilakukan bersamaan pada 11 September nanti, maka akan jadi hadiah terindah bagi RRI di Hari Radio," paparnya semangat.

Soleman melanjutkan, RRI akan menggarap program baru, yakni program tanggap bencana kerjasama dengan sejumlah lembaga seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Nama programnya "Kentongan". Karena tradisi ini ditemukan di banyak daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Sebagai negara yang berada di wilayah cincin api, masyarakat Indonesia perlu diedukasi supaya mereka bisa mengambil tindakan yang cepat dan tepat untuk meminimalisasi korban.

Halaman
12
Penulis: CitizenReporter
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved