Masyarakat Lome Pinrang Gelar Ritual Adat Manurung, Ini Tujuannya

Ia menyebutkan, ungkapan kesyukuran itu ditujukan kepada Allah atas kesehatan dan kehidupan yang telah diberikan kepada manusia dari generasi ke gener

Masyarakat Lome Pinrang Gelar Ritual Adat Manurung, Ini Tujuannya
Hery/tribunpinrang.com
Sejumlah masyarakat di Dusun Lome, Desa Massewae, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang menggelar ritual Ada Manurung 

TRIBUNPINRANG.COM, DUAMPANUA - Sejumlah masyarakat di Dusun Lome, Desa Massewae, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang menggelar ritual Ada Manurung.

Ritual yang digelar lima hingga tujuh tahun sekali itu dilakukan sebagai simbol kesyukuran kepada Maha Pencipta.

Berkas Dugaan Pelanggaran Pemilu Dilimpahkan, Bawaslu: Sabar, Masih Kita Update

Status Tersangka Nikita Mirzani Dinilai Salah Obyek, Gara-garanya Foto Dipo Latief Dianiaya

Segini Anggaran Paskibra Enrekang, Bandingkan Tahun 2018

Segini Anggaran Paskibra Enrekang, Bandingkan Tahun 2018 

Ini Alasan Kepala Rutan Kelas II B Bantaeng Rutin Donor Darah

"Tak lebih dari ungkapan kesyukuran," kata Tokoh Adat setempat, Jabaruddin (44) saat ditemui TribunPinrang.com, Senin (15/7/2019).

Ia menyebutkan, ungkapan kesyukuran itu ditujukan kepada Allah atas kesehatan dan kehidupan yang telah diberikan kepada manusia dari generasi ke generasi.

Lewat ritual itu, dikirimkan pula doa keselamatan untuk para orang tua kita yang telah lebih dahulu menghadap kepada Allah.

"Walau bagaiamana pun, kehadiran generasi hari ini itu tak terlepas dari kekuasaan Allah yang telah mengadakan generasi terdahulu. Itu juga yang seyogyanya disyukuri" jelas Jabar.

Sejumlah masyarakat di Dusun Lome, Desa Massewae, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang menggelar ritual Ada Manurung
Sejumlah masyarakat di Dusun Lome, Desa Massewae, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang menggelar ritual Ada Manurung (Hery/tribunpinrang.com)

Dalam ritual itu, tambahnya, disediakan beberapa perkakas yang dijadikan sebagai media menyampaikan doa kepada Allah..

Ada walasuji yang isinya beraneka ragam. Seperti telur, daun sirih, kapur, pinang, ayam, banno, dan sokko (tumpeng) empat rupa.

"Semua itu adalah simbol yang memiliki makna tertentu. Ada yang bermakna esensi manusia, kesucian, falsafah kehidupan, dan lainnya," papar Jabar.

Ia menegaskan, pangkal dari ritualitas yang dilakukannya itu bermuara pada esensi dari pada salat.

"Jadi sama sekali tak ada yang melenceng dari niat kepada Allah. Semua ritualitas yang ada ditumpukan kepada Sang Pencipta," pungkas Jabar. (TribunPinrang.com)

Laporan Wartawan TribunPinrang.com, @herysyahrullah

Follow akun instagram Tribun Timur:

Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:

Penulis: Hery Syahrullah
Editor: Syamsul Bahri
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved