Menteri Senior Diadukan Perkosa Sejumlah Perempuan, Dia Sangat Berpengaruh di Pemerintahan

Menteri senior diadukan perkosa sejumlah perempuan, dia sangat berpengaruh di pemerintahan.

Menteri Senior Diadukan Perkosa Sejumlah Perempuan, Dia Sangat Berpengaruh di Pemerintahan
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi korban pelecehan seksual. 

"Saya tak bisa tidur karena marah dan depresi," katanya.

Lalu ia melanjutkan, "Kalau mengadukan soal ini, maka hakim, polisi dan jaksa pasti juga akan meminta seks. Jika mereka saja begitu, kemana lagi mengadu? Ini sudah menjadi bagian budaya sekarang. Setiap pria meminta seks dari kami."

Cerita semacam ini biasanya terkubur atau menjadi bisik-bisik saja sampai jadi perhatian bulan Mei tahun ini.

Jenderal Habibullah Ahmadzai, mantan penasihat presiden yang jadi oposisi membicarakan tentang hal ini dalam wawancara dengan sebuah kanal berita.

Ia menuduh pejabat dan politikus senior "mempromosikan prostitusi".

Kantor kepresidenan menolak permohonan wawancara dan tidak menjawab email berupa daftar pertanyaan.

Mereka mengarahkan kami pada pernyataan sebelumnya bahwa tuduhan Jenderal Ahmadzai seluruhnya palsu dan ia telah berbohong karena motivasi kepentingan pribadi.

Nargis Nehan, seorang menteri memasang status di Twitter, "Sebagai seorang anggota kabinet di pemerintahan, saya bisa bilang dengan yakin bahwa tuduhan ini tak berdasar."

Namun pegiat hak perempuan Fawzia Koofi - yang sempat menjadi anggota parlemen - mengatakan ia menerima banyak pengaduan peleechan seksual yang dilakukan para pria di pemerintahan yang berkuasa sekarang.

"Pemerintah menanggapi dengan defensif. Mereka melihatnya sebagai masalah politik alih-alih melihat sebagai masalah perempuan di Afghanistan," katanya.

"Ada budaya impunitas. Para laki-laki yang menjadi pelaku merasa terlindungi oleh pemerintahan ini dan inilah mengapa mereka terus melakukan kejahatan ini," kata Fawzia lagi.

Fawzia Koofi terpilih menjadi anggota parlemen Afghanistan tahun 2005, dan sejak lama menjadi pegiat hak-hak perempuan.
Fawzia Koofi terpilih menjadi anggota parlemen Afghanistan tahun 2005, dan sejak lama menjadi pegiat hak-hak perempuan. (BBC NEWS INDONESIA)

Pemerintah telah memerintahkan penyelidikan terhadap tuduhan pelecehan seksual ini. Penyelidikan dilakukan oleh Kejaksaan Agung, pihak yang ditunjuk oleh presiden.

Saya bertemu juru bicara Kejaksaan Agung Jamshid Rasooli di kantornya.

Bagaimana orang percaya bahwa penyelidikan ini tidak berpihak, tanya saya.

"Konstitusi kami memberi hak kepada Jaksa Agung untuk independen. Kami juga bertanya kepada para pegiat. Ulama dan organisasi hak asasi juga menjadi bagian dari penyelidikan utuk memastikan kami tidak berpihak," jawabnya.

Saya menjelaskan bahwa perempuan yang saya temui berkata mereka tak percaya pada lembaga pemerintah, sehingga tak mengadukan kasus-kasus mereka.

"Kami mengumumkan bahwa identitas pengadu akan dilindungi," jawabnya. "Kami akan mengambil langkah untuk melindungi para pengadu dan keluarga mereka agar tetap aman."

Demokrasi di Afghanistan datang seiring perang yang memakan puluhan ribu korban jiwa.

Bagian dari tujuan perang itu adalah menjamin hak dan kemuliaan perempuan, yang diperlakukan secara kasar di bawah rezim Taliban.

Resolute Support, organisasi yang dipimpin oleh NATO di Afghanistan, tak mau berkomentar tentang tuduhan pelecehan seksual ini sambil menyatakan itu urusan dalam negeri Afghanistan.

Berulang pertanyaan kepada lembaga PBB untuk persoalan perempuan, UN Women, tak dijawab.

Kedutaan Besar Inggris juga menolak untuk berkomentar.

Ini adalah saat-saat genting untuk perempuan di Afghanistan.

Mereka berkeras untuk punya suara dalam perundingan damai antara Amerika Serikat dengan Taliban.

Perempuan di negeri ini, setidaknya di beberapa bagian Afghanistan, telah maju sejak rezim Taliban runtuh di tahun 2001.

Namun kemajuan ini tak akan punya makna besar seandainya pelecehan seksual di dalam pemerintahan didiamkan tanpa hukuman.(*)

Berita ini sebelumnya tayang di BBC News Indonesia dengan judul 'Skandal seks di pemerintahan Afghanistan: 'Setiap laki-laki meminta seks dari kami'

Editor: Edi Sumardi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved