OPINI - Melihat Pendidikan Bekerja di Perguruan Tinggi

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Bahasa & Sastra Inggris Fakultas Adab & Humaniora UIN Alauddin Makassar/Presiden Mahasiswa DEMA UINAM 2018

OPINI - Melihat Pendidikan Bekerja di Perguruan Tinggi
tribun timur
Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar/Presiden Mahasiswa DEMA UIN Alauddin Makassar Periode 2018

Oleh:
Askar Nur
Mahasiswa Jurusan Bahasa & Sastra Inggris Fakultas Adab & Humaniora UIN Alauddin Makassar/Presiden Mahasiswa DEMA UINAM 2018

“Sebenarnya, saya tidak suka suasana pembelajaran di ruang kelas apalagi dengan beberapa mata kuliah tapi saya memaksakan suka saja karena saya mau mendapatkan nilai (skor) yang bagus”, kiriman narasi yang terdengar dari salah seorang perempuan yang duduk di bangku sebelah di sebuah kantin kampus.

Sebuah percakapan yang terlintas di benak mengurai beberapa tanya, mungkinkah banyak peserta didik di perguruan tinggi merasakan hal demikian?

Alhasil, beberapa pendiskusian dengan peserta didik yang berkecimpung di pendidikan tinggi melontarkan pandangan yang hampir sama.

“Saya mau mendapatkan pengetahuan lebih dalam ruang perkuliahan”, “Saya mau belajar sesuai minat saya”, “Saya mau melatih kemampuan diri saya di kampus”, “Saya mau....”, “Saya mau...”.

Sekilas rangkuman keresahan-keresahan yang hadir hari ini, lantas kenapa tidak memberanikan diri untuk mengutarakan permasalahan itu kepada para tenaga pendidik?

“Saya takut, nanti nilai saya dipengaruhi hanya karena saya bertanya seperti itu”, “saya sudah menanyakan hal demikian namun jawabannya bahwa ini memang sistem jadi silahkan ikuti saja” dan beberapa jawaban-jawaban lainnya yang hampir sama.

Baca: Nenek Tando, Warga Miskin di Toraja Utara Tak Lagi Terima Bantuan

Ideologi pendidikan tinggi dewasa ini memang lebih mengarah kepada ‘pendisiplinan’ yang selain didukung oleh kebijakan tentang pendidikan itu sendiri juga didukung oleh kondisi ruang-ruang kelas yang tidak dialogis.

Antara tenaga pendidik (subjek) dan peserta didik (objek), sebuah terma pendidikan yang memposisikan para peserta didik sebagai objek yang harus diisi dengan kapital ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh tenaga pendidik selaku subjek.

Tidak adanya proses uji coba melalui proses dialog atas ilmu pengetahuan yang disalurkan oleh tenaga pendidik dalam ruang kelas atau perkuliahan akan menghasilkan peserta didik yang berada dalam ruang ketidaksadaran.

Halaman
123
Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved