Mentan Amran Janji Tak Akan Kendor Hingga Selesainya Jabatan

Pentingnya pangan sebagai penyanggah ekonomi sekaligus memenuhi perut 265 juta orang Indonesia, membuat Menteri Pertanian Amran Sulaiman tetap konsist

Mentan Amran Janji Tak Akan Kendor Hingga Selesainya Jabatan
TRIBUN TIMUR/MUH SYAHRUL PADLI
Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman saat melakukan kunjungan kerja di Takalar, Jumat (12/4/2019) 

TRIBUN-TIMUR.COM, Jakarta - Pentingnya pangan sebagai penyanggah ekonomi sekaligus memenuhi perut 265 juta orang Indonesia, membuat Menteri Pertanian Amran Sulaiman tetap konsisten dan fokus bekerja. Menteri yang dikenal berani dan solutif membantu petani ini, mengatakan dirinya tidak akan kendor hingga akhir periodenya di kabinet kerja.

"Petani dan masyarakat kecil harus diperjuangkan. Saya berprinsip kedaulatan pangan dan kemandirian pangan menjadi arah kita kedepan. Jangan kita malah melemah. Saya sudah wakafkan diri buat negeri ini", tegas Amran saat ditemui di ruang kerjanya di Jakarta, Kamis (4/7).

Sejak memimpin Kementerian Pertanian (Kementan) sejak Oktober 2014, Amran telah membuktikan ucapannya selama ini soal mafia pangan bukan isapan jempol belaka. Amran mengungkapkan keberhasilan pemerintah dalam memberantas mafia pangan tidak bisa dilepaskan dari kerja sama dan komunikasi yang intensif dengan satgas pangan. Setiap terpantau harga mengalami kenaikan, Amran bersama satgas pangan segera turun memeriksa kondisi harga di pasar dan mencari penyebabnya. Tak jarang ditemukan kenaikan harga disebabkan permainan sejumlah oknum.

"Tesisnya mafia pangan itu sulit diberantas, dan saya anti tesisnya. Sudah 700 lebih praktik mafia pangan diungkap bersama satgas pangan. Saya akan buka terus sisi gelap pangan kita agar semua pelaku di sektor pangan percaya diri menjadi lebih baik buat negeri ini," lanjut Amran.

Petani selama ini, dalam pandangan Amran, hanya dijadikan komoditas diskusi, seminar, bahkan diperas keringatnya untuk bekerja. Namun di sisi lain para petani pada akhirnya tidak mendapatkan nilai lebih dari usaha tani yang mereka jalankan. Karena alasan tersebut, Amran lebih memilih turun langsung ke lapangan dan jarang mau hadir di acara-acara diskusi.

"Diskusi tidak menyelesaikan masalah. Saya selesaikan masalah langsung di lapangan. Bertemu langsung dengan petani, bicara dengan mereka, dan selesaikan langsung. Memang tidak semua hal bisa selesai tiba-tiba, karena saking berkaratnya para pemain pangan nakal," tandas Amran.

Menurut Amran, petani sebagai produsen utama perlu mendapat jaminan harga dan margin keuntungan yang layak. Tapi upaya Kementan dalam meningkatkan kesejahteraan petani tersebut kerap diganggu pihak-pihak tertentu. Keinginan segelintir pihak untuk terus impor pangan dengan dalih harga tinggi dan stok minim kerap dijadikan alasan untuk mengkhianati petani.

"Saya orang terdepan dalam urusan tidak mau impor. Kita sebenarnya mampu kok. Kita punya sumberdayanya. Petani dan lahan pertanian kita masih mampu memenuhi kebutuhan nasional. Kenapa juga kita selalu berpikir impor? Mari ubah mindset kita", ujar Amran.

Stok beras, disebut Amran, saat ini dalam keadaan surplus. Terbukti gudang Bulog memiliki stok beras sebanyak 2.2 juta ton. Komoditas jagung yang biasa impor hingga 3,6 juta ton di masa lalu, kini bisa dipenuhi sendiri.

Keberhasilan Indonesia meningkatkan produksi komoditas-komoditas strategis tersebut membuktikan para petani telah berhasil menjadi pahlawan bagi negerinya sendiri. Namun sayangnya banyak pihak yang tidak rela karena mereka kehilangan rente impor pangan strategis dan mempermainkan harga. Apalagi nilai keuntungannya fantastis selama ini.

Halaman
12
Editor: Rasni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved