Diskusi Publik Pasca Pilpres 2019 'Cebong dan Kampret' Diharapkan Hilang

Tema diskusi adalah Merajut Kembali Persatuan Pasca Pemilihan Pilpres 2019 di Sulawesi Selatan bertempat di Hotel Trisula, Kota Makassa, Rabu (3/7/201

wahyu/tribun-timur.com
Empat narasumber Diskusi Publik Merajut Kembali Persatuan Pasca Pemilihan Pilpres 2019 di Sulawesi Selatan didampingi moderator saat memaparkan hasil Pilpres 2019 di Hotel Trisula, Makassar, Rabu (3/7/2019). 
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Lensa Demokrasi mengadakan Diskusi Publik dan Halalbihalal pasca penetapan hasil Pilpres 2019.  

Tema diskusi adalah Merajut Kembali Persatuan Pasca Pemilihan Pilpres 2019 di Sulawesi Selatan, bertempat di Hotel Trisula, Kota Makassa, Rabu (3/7/2019).

Ada empat tokoh publik di Sulsel yang membawakan materi, yakni Wawan Mattaliu, Irfan AB, Rusdi Idrus dan Dr Arif Wicaksono, sebagai Akademisi.

Diskusi ini dihadiri mahasiswa yang bergelut di bidang organisasi dari beberapa kampus di Makassar, dan disupport oleh HmI Komisariat Perti Fajar, dan Indonesia Public Health Committee.

Satlantas Polres Gowa Jaring 44 Pelajar Pelanggar Lalu Lintas

Tekan Angka Stunting, Ini Dilakukan Pemda Enrekang

Wawan Mattaliu, Pegiat Literasi, dan juga anggota DPRD Sulsel ini memaparkan, 
Pilpres beberapa bulan lalu diakuinya menimbulkan keretakan sosial di masyarakat.

Apalagi, setelah Mahkama Konstitusi (MK) memutuskan gugatan Pilpres dan KPU sudah menetapkan pemenang Pilpres yakni Jokowi-Ma'ruf.

"Maka jangan lagi ada cebong dan kampret," tegas Wawan Mattaliu.

Cebong dan Kampret adalah dua kubu dari masing-masing pendukung calon Presiden beberapa waktu lalu.

Kedua julukan ini beredar ditengah masyarakat, utamanya di jagat Maya selama Pilpres berlangsung.

Cebong ditunjukkan untuk pendukung pasangan nomor urut satu Jojowi-Ma'ruf dan Kampret untuk nomor urut dua, Prabowo-Sandi.

Menurut Wawan yang juga pendukung Jokowi-Ma'ruf ini, kedua kelompok ini saling berselisih di dunia Maya namun tak memiliki solusi.

"Kelas Cebong dan Kampret ini adalah orang-orang menengah keatas. Mereka tidak tahu, beberapa elite yang terlihat bermusuhan di TV, itu kerap nongki bersama di Cafe," ungkapnya.

Sementara itu, Irfan AB yang juga Anggota DPRD Sulsel dari PAN Sulsel mengatakan, proses retakan dikedua kubu pendukung masing-masing Capres bentuknya sama dengan Piramida Terbaik.

Hanya saja, persoalan perbedaan pendukung masing-masing Capres, terjadi di dunia Maya. 

"Karena di lingkungan saya tidak ada memutuskan silaturahim. Jadi saya kira, setelah Pilpres, tidak ada lagi yang bilang Jokowi atau Prabowo," imbau Irfan AB, selaku pendukung Prabowo-Sandi.

Adapun Ketua GP Ansor Sulsel, Rusdi Idrus menjelaskan, perselisihan dua kubu saat Pilpres lalu di dunia Maya harus segera dibendung.

Daftar Film Hollywood Tayang Bulan Juli 2019, Ada Detective Conan The Fist of Blue Sapphire

 BERLANGSUNG 0-0 Live di Indosiar Live Streaming Persija vs PSS Sleman - Incar Kemenangan Pertama

Sebab jika hal itu kembali terjadi, pada Pilpres selanjutnya bahkan Pilkada akan terus ada kubu yang berselisih di dunia Maya.

"Karena ini seperti bola salju yang terus menggelinding. Kalau tidak dilakukan antisipasi, akan menjadi masalah besar bagi generasi di masa akan datang," terangnya.

Sementara dari Akademisi, Dr Arif Wicaksono yang juga Dekan FISIP Unibos menyimpulkan, terjadinya pertentangan di Pilpres karena dinamika di Indonesia terlalu kompleks.

Sehingga, sebutan Cebong dan Kampret itu ada karena ada keretakan sosial.

"Kita masih punya sikap munafik, saya tidak yakin masyarakat kedepan akan jauh lebih baik. Watak kita lemah, ditambah lagi kita hipokrit. Di kehidupan nyata kita cipika cipiki tapi di dunia Maya tidak," paparnya.

Ia berharap, dengan selesainya momen Pilpres masyarakat tak ada lagi yang berselisih dan membawa nomor urut di dunia Maya.

"Tapi kita lihat bagaimana. Situasi politik pasca Pilpres memberikan kedewasaan masyarakat Indonesia atau tidak sama sekali," pungkasnya. (*)


Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, @wahyususanto_21
 

Langganan Berita Pilihan 
tribun-timur.com di Whatsapp 
Via Tautan Ini http://bit.ly/watribuntimur

Follow akun instagram Tribun Timur:

Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:

Penulis: Wahyu Susanto
Editor: Ansar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved