Master Campaign RP: Bukan Cuma Imran dan Rahman Pina Kehilangan Suara, Caleg Lain Juga

"Kami tidak ingin menyalahkan siapapun. Inilah proses demokrasi di negara kita," ujar Taufik kepada Tribun via pesan Whatsapp, Selasa (2/7/2019).

Master Campaign RP: Bukan Cuma Imran dan Rahman Pina Kehilangan Suara, Caleg Lain Juga
Rahman Pina
Mantan Plt Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar Rahman Pina terpilih sebagai anggota DPRD Sulsel untuk periode 2019-2024. 
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Master Campaign Rahman Pina (RP), Taufik Manji tidak ingin mengomentari terlalu jauh penetapan Ketua PPK Biringkanaya dan Panakkukang sebagai tersangka.

"Kami tidak ingin menyalahkan siapapun. Inilah proses demokrasi di negara kita," ujar Taufik kepada Tribun via pesan Whatsapp, Selasa (2/7/2019).

Ia menjelaskan bahwa sistem perhitungan berjenjang yang sangat panjang, sangat memungkinkan adannya kekeliruan dalam perhitungan disetiap jenjang.

"Baik di tingkat TPS, PPS, PPK, rekapitulasi KPU kota, propinsi, hingga nasional," tegas Taufik.
Akibatnya, selain merugikan para kontekstan dalam hal ini para caleg atas kemungkinan terjadinya kesalahan, juga melelahkan penyelenggara.

"Laporan data dari tim kami, Pak Rahman Pina juga kehilangan begitu banyak suara selama proses rekapitulasi. Caleg lain juga begitu. Baik caleg kota, propinsi, dan DPR RI," katanya.

"Apalagi banyak sekali TPS yang dihitung ulang, sehingga data C1 banyak bergeser. Bagi kami, setelah dilakukan hitung ulang di rekapitulasi propinsi, meskipun suara kami berkurang, hasilnya kami terima," jelas Taufik.

Ia mengaku tidak akan menyalahkan siapa pun.
Taufik mengaku ikhlas menerima hasil apa adanya. Ditegaskannya, ia tidak tegah melaporkan penyelenggara.

Link Live Streaming Brasil vs Argentina Besok Mulai Jam 07.30, Semifinal Copa America 2019

Multifinance Makin ‘Alergi’ Surat Utang

"Mereka sudah bekerja berhari-hari, berminggu-minggu, meninggalkan anak dan keluarganya di rumah. Ada yang jatuh sakit dan bahkan meninggal dunia," Taufik menambahkan. 

Banyaknya kesalahan dalam proses rekapitulasi kali ini, kata Taufil tidak semata-mata karena kelalain penyelenggara.
Menurutnya, kasus seperti itu akan terus terjadi selama sistem perhitungan pemilu tidak berubah.

"Sudah begitu banyak yang menjadi korban dengan sistem Pemilu kita ini. Selama proses perhitungan konvensional terus dipertahankan. Selama sistem Pemilu kita tidak berubah, maka selama itu pula potensi kesalahan sulit dihindari," katanya. 

Akhirnya, lanjut Taufik, berujung pada korban penyelenggara, baik terkena kasus hukum, sakit, hingga meninggal dunia.
"Ini sungguh beban yang diberikan kepada penyelenggara terlalu berat dan beresiko," katanya.

Selain banyak memakan korban para penyelenggara, sistem Pemilu di Indonesia,  kata magister administrasi Fisip Unhas ini, juga menciptakan efek buruk, karena sejak awal sesama caleg sudah saling mencurigai dan dicurangi.
Ini terjadi setiap akan ada Pemilu dan Pilkada. Sudah turun-temurun dari Pemilu ke Pemilu.

"Semua caleg dan timnya saling mencurigai ada kecurangan, baik sebelum maupun setelah perhitungan suara. Apalagi setelah ada hitungan resmi, maka sasaran empuk yang disalahkan para caleg kalah adalah penyelenggara pemilu yang dianggap tidak becus," Taufik menambahkan lagi.

Atas dasar itu, Taufik menyarankan, Pemilu 2020 dan seterusnya tak lagi mempertahankan sistem seperti sekarang yang sudah sangat kuno dan tertinggal.

"Saatnya segera beralih ke sistem E-voting. Pola ini dianggapnya lebih sederhana, lebih efektik, dan efisien, sehingga tidak memakan korban lebih banyak lagi. Kalau bisa mulai Pilkada 2020, sudah menggunakan E-voting, termasuk Pilwali," tegas Taufik.

Dapil Makassar B atau Sulsel II meliputi 4 Kecamatan di Makassar, Kecamatan Manggala, Panakkukang, Tamalanrea, dan Biringkanaya.

Dapil ini memperebutkan 6 kursi di DPRD Sulsel dengan peroleh suara tertinggi caleg masing-masing partai, yakni Rahman Pina dari Golkar, Reski Mulfiati Lutfi (Nasdem), Misriani Ilyas (Gerindra), Haslinda (PKS), Haidar Madjid (Demokrat) serta Novianus L Patanduk (PDIP).

Komisi IV DPRD Sulbar Belajar Cara Peningkatan Prestasi Olahraga ke Dispora Sulsel

Polda Tetapkan 5 Tersangka Pemilu 2019, Rahman Pina: Saya Cuma Saksi

Tidak ada sengketa Pemilu 2019 di Dapil II Sulsel terkait hasil Pemilu ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Sebelumnya, penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Kepolisian Daerah (Polda) Sulsel menetapkan lima tersangka, dalam kasus dugaan penggelembungan suara pada Pemilihan Umum (Pemilu) serentak 2019, Selasa (2/7/2019).

Mereka, Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Kecamatan Panakkukang Umar, Ketua PPK Kecamatan Biringkanaya Adi.

Anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) Panaikang, Kecamatan Panakkukang Fitri, Operator Komisi Pemilihan Umum (KPU) Biringkanaya Rahmat, dan Ismail (anggota PPS Panakkukang). (*)

Laporan Wartawan tribuntimur.com/ Abdul Azis Alimuddin

Langganan Berita Pilihan 
tribun-timur.com di Whatsapp 
Via Tautan Ini http://bit.ly/watribuntimur

Follow akun instagram Tribun Timur:

Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:

Penulis: Abdul Azis
Editor: Ansar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved