Foto Jenazah Ayah dan Anak Terapung dalam Satu Bungkusan Picu Protes, Cerita di Baliknya Memiriskan

Foto jenazah ayah dan anak terapung dalam satu bungkusan picu protes tajam, cerita di baliknya memiriskan.

Foto Jenazah Ayah dan Anak Terapung dalam Satu Bungkusan Picu Protes, Cerita di Baliknya Memiriskan
AFP VIA BBC NEWS INDONESIA
Tenggelamnya migran ayah dan putrinya yang berumur dua tahun asal El Salvador ketika mencoba menyeberang ke AS ini telah menyebabkan debat politik yang emosional di Amerika. 

Kebijakan pemerintah AS - sebagaimana disampaikan di pengadilan federal pada 18 Juni - adalah anak-anak di fasilitas ini tidak butuh akses kepada sabun untuk mencuci tangan mereka, tak butuh akses ke sikat gigi atau tempat tidur.

Anak-anak yang kami ajak bicara bilang bahwa mereka punya anggota keluarga di AS dan putus asa utuk berkumpul lagi dengan keluarga mereka.

Anak-anak ini tidak pantas untuk dikurung di kandang seperti itu selama berhari-hari dan berminggu-minggu."

Pemerintahan Donald Trump memiliki kebijakan yang kejam terhadap anak-anak.

Anak-anak ini lari dari trauma buruk dan pemerintahan AS seharusnya taat hukum dan menyediakan kondisi yang aman dan bersih untuk anak-anak itu.

'Toilet di udara terbuka, tempat di mana mereka makan dan tidur'

Profesor Warren Binford adalah direktur Clinical Law Program di Willamette University, negara bagian Oregon. Ia ahli dalam hak-hak anak.

Ia bercerita kepada BBC:

"Mereka menahan 350 anak di fasilitas yang asalnya diperuntukkan bagi 104 orang dewasa. Beberapa anak mengatakan sudah di sana selama tiga minggu.

Lebih dari 100 anak yang ditahan di sana merupakan anak usia sekolah, anak usia prasekolah, balita dan bayi. Juga ada sejumlah anak-anak yang sudah menjadi ibu, ditahan bersama bayi mereka.

Halaman
1234
Editor: Edi Sumardi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved