Alumni IPM Bantaeng Bawakan Materi Appreciative Inquiry, Ini Dibahas

Pelatihan diadakan di Pondok Pesantren Khairul Ummah Pattallassang, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Alumni IPM Bantaeng Bawakan Materi Appreciative Inquiry, Ini Dibahas
Foto Agusliadi
Alumni Ikatan Pelajar Muhammadiyah Agusliadi membawakan materi Appreciative Inquiry 

TRIBUNBANTAENG.COM, BANTAENG - Alumni Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Agusliadi, membawakan materi Appreciative Inquiry (AI), pada Pelatihan Kader Madya Taruna Melati II (PKM TM II).

Pelatihan diadakan di Pondok Pesantren Khairul Ummah Pattallassang, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng,  Sulawesi Selatan.

Baca: Jabatan Kadis Pendidikan Parepare Bakal Lowong, Kepsek Berpeluang

Baca: BREAKING NEWS: 60 Legislator DPRD Sulsel Setujui Hak Angket

Kegiatan ini, diikuti puluhan kader, dan pimpinan IPM Bantaeng, Maros, dan Gowa.

Alumni IPM Agusliadi mengatakan, pimpinan IPM adalah tentang perubahan paradigma, untuk lebih fokus melihat sisi positif, kelebihan, dan potensi baik terhadap diri sendiri.

"Appreciative Inquiry (AI) mampu mengcounter paradigma berpikir, yang selama ini cenderung defisit melihat sisi problem, kekurangan, suram, dan beberapa hal negatif lainnya,"ujar Agusliadi, Minggu (23/6/2019)malam. 

AI adalah sebagai upaya serius, untuk menutupi kelemahan psikologi, yang cenderung berangkat pada sebuah problem, yang selanjutnya ternyata kembali bermuara pada problem baru. 

"AI relevan dengan mekanisme kerja alam bawah sadar, frekuensi otak, kekuatan perasaan, dan pikiran. AI pada dasarnya terdiri atas siklus 4 D, Discovery, Dream, Design dan Destiny," tambah Agusliadi.

Dream bahkan bisa menjadi pelampung, agar tidak tenggelam dalam samudra kehidupan, dan bahkan bisa kembali menyalakan lilin kehidupan. 

"AI berpijak pada hipotesis heliotropic, ibarat tumbuhan yang tumbuh berkembang, mengarah pada sesuatu yang memberikan kehidupan atau energi," tambah Agusliadi.

Ia berharap agar kepada pengurus IPM, mengalami transformasi paradigma  dalam melihat kondisi bangsa, perkembangan organisasi.

"Bahkan melihat tentang dirinya tetap cenderung memiliki paradigma devisit, karena ilmu psikologi salama ini, cenderung melihat titik dari sebuah problem,"tuturnya. 

Laporan Wartawan TribunBantaeng.com @ Nur_Wahidah_Saleh

Langganan Berita Pilihan 

tribun-timur.com di Whatsapp
Via Tautan Ini http://bit.ly/watribuntimur

Subscribe YouTube Tribun Timur

Juga Follow IG resmi Tribun Timur

 

Penulis: Nurwahidah
Editor: Sudirman
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved