Stop Hoax

Daftar 15 Link Info Hoax: Grup WA Dipantau Polisi, Menantu RI-1, Hingga Jenderal Tito Pembunuh KPPS

Daftar 15 Link Berita Hoax Mulai Grup Whatsapp Dipantau Polisi Hingga Jenderal Tito Pembunuh KPPS

Daftar 15 Link Info Hoax: Grup WA Dipantau Polisi, Menantu RI-1, Hingga Jenderal Tito Pembunuh KPPS
kominfo.go.id
Menantu Presiden RI Jokowi Calon Sekjen PSSI ternyata Hoax. Berikut 15 daftar Info Hoax yang dirilis Kominfo ada Jenderal Tito Karnavian hingga isu Grup WhatsApp dipantau polisi 

Daftar 15 Link Berita Hoax Mulai Grup Whatsapp Dipantau Polisi Hingga Jenderal Tito Pembunuh KPPS

TRIBUN-TIMUR.COM - Salam Anti-Hoax!.

Kementerian Kominfi RI merilis daftar kabar Hoax yang berseliweran di media sosial.

Pantauan tribun-timur.com, berikut 15 daftar informasi Hoax yang dilansir situs resmi Kominfo.

Jangan sampai Anda ikut menyebar Hoax dimaksud.

Berikut rangkumannya:

Kabar hoaks kembali menerpa para pejabat tinggi negara.

Kali ini seputar insiden meninggalnya ratusan petugas KPPS pada Pemilu 2019. Di media sosial, beredar kabar jika Kapolri Jenderal Tito Karnavian dituding menjadi dalang kematian 600 petugas KPPS.  

Konten hoaks tersebut menarasikan bahwa, Tito sebagai otak pelaku pembunuhan berencana 600 orang anggota KPPS dengan cara menggunakan racun. 

Tidak hanya itu, dalam postingan itu juga menulis, korban tidak boleh dilakukan autopsi. Tito juga melakukan ancaman hukuman 10 tahun kepada dokter yang melakukan autopsi. 

Plt. Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika, Ferdinandus Setu mengatakan, setelah dilakukan penelusuran oleh Tim AIS, kabar tersebut dipastikan hoaks. 

“Itu kabar bohong yang sengaja dipelintir, karena untuk membuktikan anggota KPPS tewas karena diracuni, telah dibantah oleh KPU dan Bawaslu,” kata Ferdinandus di Jakarta, Rabu (19/6/2019).

Ferdinandus menjelaskan, selain dibantah oleh KPU dan Bawaslu.

Meninggalnya 600 anggota KPPS yang diduga diracuni itu, tidak memiliki bukti yang kuat. 

“Jadi kami ingatkan ya, itu kabar Hoaks. Apalagi ini malah menuduh Kapolri Tito Karnavian sebagai pelakunya,” imbuhnya

Kabar hoaks lain yang beredar luas di media sosial Facebook tentang menantu Presiden Jokowi, Bobby Nasution sebagai Calon Sekjen PSSI mendampingi Komjen (Pol) M Iriawan.  

Kabar tersebut dibantah langsung oleh Bobby Afif Nasution, bahwa dirinya tidak pernah mengajukan diri menjadi Sekretaris Jenderal PSSI. 

“Bobby merasa, dirinya kurang mampu menjadi bagian dari struktur PSSI. Sebab, selain tidak berpengalaman mengurusi sepak bola Tanah Air, ia juga tidak menaruh minat di sana (sepakbola),” terang Ferdinandus. 

Berikut rincian lengkap laporan isu hoaks harian untuk tanggal 19 Juni 2019 oleh Tim AIS Kementerian Kominfo. 

1. Tito Karnavian sebagai Otak Pelaku Pembunuhan Berencana 600 Orang Anggota KPPS

2. Bobby Nasution Calon Sekjen PSSI

3. “Ribut terus tentang MK Sampai Gak Pada Sadar bahwa Tarif Listrik Naik Kurang Lebih 20% Tanpa Pengumuman Lagi”

4. Portal m-detiknews.blogspot.com Memiliki Tampilan Seperti Detik.com

5. Laga Pembuka Liga 2 Digelar di Balikpapan

6. Briptu Adu Domba Polisi dengan TNI

7. Akad Kontrak Gubernur DKI Jakarta

8. Foto Mobil dan Lampu Merah Meleleh karena Cuaca Panas Ekstrim di Kuwait

9. Pelajar Bulukumba Mencoba Mengakhiri Hidup karena Video Asusila Viral

10. Rezim Zalim Menghalangi BW Masuk MK untuk Sidang

11. KETAHUAN! Media Asing Sebut Jokowi Butuh Uang dari China untuk Menangkan Suara di PILPRES 2019

12. Geger, Ditemukan Singa Kurus di Kebun Binatang Indonesia

13. Gara-Gara Selingkuh Tangan Dan Kaki Tertukar

14. Uang Rupiah Baru Bisa Luntur

15. Sebentar Lagi Seluruh Grup WA Akan Dipantau Polisi 

 

Ancaman Hukuman Penjara Penyebar Hoax

Ada beberapa aturan hukum yang bisa menjerat penyebar dan pembuat hoax.

Dari hukum pidana, pelaku penyebar hoax melanggar pasal 1 dan 2 UU NOMOR 1 Tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana.

(1) BArang siapa dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong dengan sengaja menerbitkan keoranaran di kalangan rakyat, maka dihukum penjara setingginya 10 tahun.

(2) Barang siapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan yang dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat sedangkan ia patut dapat menyengka bahwa berita/pemberitahuan itu bohong dihukum setinggi-tingginya 3 tahun.

Halaman
12
Editor: Mansur AM
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved