OPINI

OPINI - Mengenal Tahapan Rehabilitasi Narkotika

Mayoritas masih beranggapan proses rehabilitasi hanya sekadar pemberian obat-obatan medis tatkala pecandu tengah withdrawl/sakaw

OPINI - Mengenal Tahapan Rehabilitasi Narkotika
handover
Muhammad Hatta

Oleh:
dr Muhammad Hatta MPH
Dokter Balai Rehabilitasi BNN Baddoka Makassar

SAAT ini terdapat kurang lebih 700 pusat rehabilitasi narkotika di seluruh Indonesia. Sebanyak 90 persen di antaranya merupakan Institusi Penerima Rawat Jalan (IPWL).

IPWL sendiri dapat berbentuk rumah sakit (RS), puskesmas, klinik mandiri dan panti sosial. Walau berjumlah ratusan, hanya 15.263 pecandu yang berhasil direhabilitasi tahun lalu (JPNNews, 20/12/2018).

Tempat rehabilitasi narkotika pun belum ‘bergaung’ di telinga masyarakat. Riset BNN mengungkap hanya sebagian masyarakat (49 persen) yang mengetahui keberadaan tempat rehabilitasi di wilayahnya.

Mayoritas masih beranggapan proses rehabilitasi hanya sekadar pemberian obat-obatan medis tatkala pecandu tengah withdrawl/sakaw. (BNN,2018).

Padahal proses rehabilitasi tak sekadar pemberian obat-obatan medis ketika pecandu tengah withdrawl (sakaw), melainkan juga mekanisme psikoterapi, perubahan perilaku dan bimbingan religi.

Proses rehabilitasi dimulai dengan asesmen medis mempergunakan alat tes yang dinamakan Addict Severity Index(ASI).

Tes ini berguna dalam menentukan metode terapi yang dibutuhkan klien nantinya.

Jika memenuhi syarat, ia akan mengikuti program detoksifikasi dan abstinen (berpantang zat) selama kurang lebih dua minggu.

Baca: KNPI Bantu Korban Banjir di Sidrap

Periode tersebut diawasi secara ketat oleh tenaga medis, psikolog dan konselor guna meminimalisir gejala putus obat (withdrawl) yang biasa dialami.

Halaman
1234
Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved