Wahyu Jayadi Pembunuh Pegawai UNM Sering Melamun di Penjara, Pikirkan Gelar Profesornya

Kuasa Hukum Wahyu Jayadi, M Shyafril Hamzah mengatakan, kliennya tak kuasa menerima kenyataan pahit harus mendekam dalam jeruji besi.

Wahyu Jayadi Pembunuh Pegawai UNM Sering Melamun di Penjara, Pikirkan Gelar Profesornya
Ari Maryadi/Tribun Gowa
Wahyu Jayadi (baju biru) saat dikunjungi Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga. 

TRIBUN-TIMUR.COM, SUNGGUMINASA - Wahyu Jayadi genap sebulan mendekam dalam sel tahanan Mapolres Gowa, Jl Syamsuddin Tunru Sungguminasa.

Ia ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan pegawai kampus Universitas Negeri Makassar, Siti Zulaeha Djafar, Minggu (24/3/2019) lalu.

Pria yang berprofesi sebagai dosen ilmu olahraga ini rupanya sering melamun di tahanan.

Kuasa Hukum Wahyu Jayadi, M Shyafril Hamzah mengatakan, kliennya tak kuasa menerima kenyataan pahit harus mendekam dalam jeruji besi.

Apatah lagi, kliennya tersebut termasuk doktor muda di kampus Universitas Negeri Makassar. Bahkan selangkah lagi meraih gelar profesor.

"Klien kami ini sering terdiam secara tiba-tiba kalau ditemani berbicara. Dia syok menerima nasibnya di penjara," kata Shyafril kepada Tribun Timur, Kamis (24/5/2019).

"Jadi Pak Wahyu itu sering melamun pikir gelar profesornya yang rencanakan dikukuhkan pada tanggal 5 April 2019 kemarin," sambung pria Pangkep tersebut.

Selain karir akademik, kata Shyafril, Wahyu Jayadi juga masih memiliki beban pikiran lain.

Shyafril menyebut, Wahyu sering memikirkan nasib keempat anaknya yang mesti menanggung malu akibat perbuatan ayahnya.

"Anak bungsunya yang berumur lima tahun sering menangis. Dia rindu Bapaknya karena sering satu ranjang tidur dengan Bapaknya," imbuh Shyafril.

"Pak Wahyu itu selama ini juga selalu menyempatkan bermain bersama anak bungsunya sebelum tidur, ia rutin lakukan itu sepulang kerja demi menyenangkan hati anaknya," sambung Shyafril.

Oleh karena itulah, kata Shyafril, Wahyu sering melamun dalam penjara. Ia tak henti memikirkan karir akademiknya serta keempat anaknya.

"Saya coba sampaikan ke Pak Wahyu untuk menerima kenyataan ini. saya minta dia bertaubat. Makanya dia sekarang fokus memperbaiki diri dengan taat beragama," pungkasnya.

Laporan Wartawan Tribun Timur @bungari95

Penulis: Ari Maryadi
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved