Mata Najwa
Reaksi Jubir 02 Andre Rosiade Saat Ditegur Najwa Shihab, 'Saya Protes Kalau Prabowo Disalahkan'
Reaksi Jubir 02 Andre Rosiade Saat Ditegur Najwa Shihab, 'Saya Protes Kalau Prabowo Disalahkan'
Reaksi Jubir 02 Andre Rosiade Saat Ditegur Najwa Shihab, 'Saya Protes Kalau Prabowo Disalahkan'
TRIBUN-TIMUR.COM - Mata Najwa Trans 7 tadi malam membahas tema Pilpres 2019 'Setelah 22 Mei'.
Talkshow yang dipandu Najwa Shihab ini berlangsung seru.
Ada kubu 01 yang diwakili Meutya Hafid dan Abdul Kadir Karding.
Kubu 02 diwakili Jubir 02 Andre Rosiade dan Ferdinand Hutahaean.
Ketua KPU RI Arif Budiman dan Ketua Bawaslu RI Abhan juga hadir.
Surveiyor Yunarwo Wijaya juga hadir.
Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Andre Rosiade ditegur karena berteriak-teriak soal korban aksi 22 Mei.
Hal tersebut terjadi ketika Andre Rosiade menjadi narasumber di program acara Mata Najwa yang tayang pada Rabu malam (22/5).
Di acara tersebut membahas mengenai tema 'setelah 22 Mei'.
Baca: Bukan Prabowo, Tapi Orang Ini yang Harus Bertanggung Jawab Atas Kerusuhan Aksi 22 Mei Kata Mahfud MD
Baca: THR ASN, Polri, TNI dan Pensiunan Cair Besok, 24 Mei? Pernyataan Terakhir Jokowi: Akhir Mei!
Baca: Sudah Buat Wasiat Sejak Jauh Hari, Ustadz Arifin Ilham Ternyata Sempat Sholat Padahal Sudah Kritis
Awalnya Ia meminta pihak TKN Jokowi-Maruf Amin dan Yunarto Wijaya untuk tidak mengkritisi Prabowo Subianto terus menerus.
"Bang Kardin, Mba Meutya Hafid, Bang Ferry dan Bang Toto saya ingin menjawab pernyataan mereka sekaligus. Pertama, Bang Ferry jangan hanya mengkritisi Pak Prabowo saja.
Coba dikritisi Pak Jokowi yang narasinya mengajak perang dalam pidato tadi sore," ucap Andre Rosiade.
Andre Rosiade juga membantah jika pihaknya dianggap melakukan delegitimasi KPU dan Bawaslu.
"Memang kami kritis ke KPU dan Bawaslu, kami mengikuti mekanisme yang ada dan melaporkannya.
Bahkan, kami sedang merajut laporan baru yang sesuai formulasi yang diingikan Bawaslu sehingga dugaan TSM ini bisa bersidang," papar Andre Rosiade.
Tak hanya itu, Andre Rosiade mengungkapkan pihaknya memang menolak rekapitulasi nasional namun dengan menggunakan cara-cara konstitusional.
"Saksi kami hadir dan menyampaikan keberatan di rapat pleno terbuka, kami juga mengisi form keberatan dan tanda tangan. Itu juga konstitusional. Maka jangan menganggap kami mendelegitimasi KPU dan Bawaslu," imbuh Andre Rosiade.
Selain itu, Andre Rosiade juga membahas mengenai pidato Prabowo Subianto yang meminta aksi 22 Mei diakhiri.
Dalam pidato tersebut, lanjut Andre Rosiade, Prabowo Subianto telah menghimbau peserta aksi 22 Mei untuk tak melawan aparat.
Baca: Bukan Prabowo, Tapi Orang Ini yang Harus Bertanggung Jawab Atas Kerusuhan Aksi 22 Mei Kata Mahfud MD
Baca: THR ASN, Polri, TNI dan Pensiunan Cair Besok, 24 Mei? Pernyataan Terakhir Jokowi: Akhir Mei!
Baca: Sudah Buat Wasiat Sejak Jauh Hari, Ustadz Arifin Ilham Ternyata Sempat Sholat Padahal Sudah Kritis
"Kami sudah mengeluarkan statement berulang kali dan bahkan pernyataan Pak Prabowo juga telah menghimbau untuk tak melawan aparat.
Sedangkan Mba Meutya Hafid sibuk memprotes Pak Prabowo," ungkap Andre Rosiade.
Lantas Andre Rosiade justru membandingkan beda sikap Prabowo Subianto dan Jokowi soal aksi 22 Mei itu.
Menurutnya, Jokowi bersikap tak memberikan ucapan bela sungkawa kepada korban aksi 22 Mei.
"Padahal Presiden Jokowi mengucapkan belasungkawanya pun tidak kepada 6 orang meninggal dunia di aksi 22 Mei," teriak-teriak Andre Rosiade.
Lantas aksi Andre Rosiade itu mendapatkan teguran.
"Jangan teriak-teriak," papar seorang pria.
"Saya memberikan narasi keadilan," ungkap Andre Rosiade.
"Sebentar...boleh kah saya meminta sekeras apapun opininya disampaikan dalam nada yang meneduhkan," imbuh Najwa Shihab.
Tak terima mendapatkan teguran, Andre Rosiade bersikeras pernyataannya tersebut hanya lah sebuah protes.
"Saya harus protes jangan sampai ada pihak yang hanya menyalahkan Pak Prabowo padahal beliau sudah menghimbau agar pendukungnya tak anarkis," papar Andre Rosiade.
Sebelumnya, Politikus Partai Golkar, Meutya Hafid menyayangkan sikap elite politik yang justru memanaskan situasi yang sudah semakin kisruh dan membuat ada warga yang kehilangan nyawanya.
"Ini sudah jelas kelewatan batas, mari kita membuka hati sama-sama. Sampai hari ini kita masih mendengar politisi yang mengatakan maju terus, kita pasti menang. Kita betul-betul harus bisa duduk sama-sama," kata Meutya Hafid.
Ketua Bawaslu, Abhan mengatakan pihaknya sudah menerima tiga laporan. Dua laporan dari BPN, dan satu dari masyarakat.
“Dua dari BPN itu soal laporan kecurangan TSM tidak dilanjutkan karena tidak mencukupi bukti-buktinya. Pembuktian itu kan akumulatif, terstruktur itu dilakukan oleh aparat pemilu tidak terbukti, soal sistematis dan masif minimal 50 persen. Ini kan harus dibuktikan dengan alat bukti dan saksi. Setelah kami pelajari tidak terbukti,” ujar Abhan.
Update Korban Aksi 22 Mei
Tercatat 347 orang menjadi korban dalam kerusuhan yang terjadi sejak Selasa (21/5/2019) hingga Rabu (22/5/2019) malam.
Berdasarkan data yang diterima hingga Rabu (22/5/2019) pukul 20.00 WIB tercatat dari 347 korban tersebut mengalami luka-luka, 271 diantaranya masih dalam proses pendataan dan diagnosis.
Rinciannya, ada 21 jiwa luka ringan, 16 luka kategori berat, luka non trauma 33, dan 6 korban meninggal dunia.
Para korban ditempatkan di Rumah Sakit Pelni sebanyak 78 orang, RS Mardi Waluyo 2 orang, RS Tarakan 122 orang, RS Mintohardjo 2 orang, RS Budi Kemuliaan 84 orang.
Kemudian RSUD Tanah Abang 28 orang, RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) 6 orang, serta 25 orang lainnya ditangani di posko lapangan.
"Ini per pukul 20.00 WIB, jumlah total korban 347 orang luka, diagnosanya ini dalam proses pendataan," ujar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/2019) malam.
Untuk mereka yang meninggal dunia, pihak Pemprov DKI masih belum bisa merilis resmi nama-namanya.
Sebab Anies menilai keluarga yang bersangkutan harus lebih dulu mendapatkan informasi sebelum disebarluaskan di media.
Apalagi, ada 3 orang korban jiwa meninggal dunia yang berasal dari luar Ibu Kota.
"Ini dipastikan seluruh keluarganya dapat info dulu baru diumumkan. Jadi jangan sampai keluarga dengarnya dari luar. Karena itu kita tidak keluarkan nama sampai memastikan seluruh keluarganya mengetahui," kata dia.
257 orang jadi tersangka
Polda Metro Jaya menangkap 257 orang sebagai tersangka kerusuhan yang terjadi pada 22 Mei 2019 dini hari.
Para tersangka melakukan kerusuhan di Petamburan, depan Bawaslu, dan Gambir.
"Jadi untuk di Bawaslu ada 72 tersangka. Kemudian di Petamburan ada 156 tersangka, dan di Gambir ada 29 tersangka. Keseluruhan ada 257 tersangka," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono, saat rilis di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (22/5/2019).
Penangkapan yang terjadi Bawaslu dilakukan karena para perusuh mencoba untuk melawan petugas.
Seperti diketahui, aksi unjuk rasa di depan Kantor Bawaslu, Jalan Thamrin, Jakarta, berlangsung ricuh. Bahkan kericuhan terjadi hingga Rabu pagi, (22/5/2019).
Pengunjuk rasa yang berdemo di depan Bawaslu dipukul mundur aparat keamanan pada Rabu dini hari, (22/5/2019).
Masa yang sempat membakar sejumlah benda diantaranya ban tersebut dipukul mundur hingga kawasan Tanah Abang.
Kericuhan juga terjadi di dekat Asrama Brimob Tanah Abang hingga kawasan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat.(TribunJakarta/Kurniawati Hasjanah)
Baca: Bukan Prabowo, Tapi Orang Ini yang Harus Bertanggung Jawab Atas Kerusuhan Aksi 22 Mei Kata Mahfud MD
Baca: THR ASN, Polri, TNI dan Pensiunan Cair Besok, 24 Mei? Pernyataan Terakhir Jokowi: Akhir Mei!
Baca: Sudah Buat Wasiat Sejak Jauh Hari, Ustadz Arifin Ilham Ternyata Sempat Sholat Padahal Sudah Kritis
Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Ditegur Teriak-teriak tentang Korban Aksi 22 Mei di Mata Najwa, Andre: Saya Berikan Narasi Keadilan,