OPINI

OPINI - Politik dan Puasa yang Memerdekakan

Berpuasa dan berpolitik memang merupakan dua hal yang berbeda. Namun, kita berharap keduanya sama-sama memerdekakan.

OPINI - Politik dan Puasa yang Memerdekakan
tribun timur
Mahasiswa Doktoral UIN Alauddin Makassar

Oleh:
Abdul Waris Ahmad
Mahasiswa Doktoral UIN Alauddin Makassar

Kontestasi politik dalam negeri baru saja berlangsung.

Namun, debu-debu kepentingan masih istikamah menerbangkan isu-isu perpecahan yang terhubung langsung ke saluran nadi masyarakat.

Nafas kekuasaan tak ubahnya nafas yang keluar masuk ke tubuh manusia, bahkan terkadang membuat sesak.

Menjadi sebuah cita-cita yang sangat mulia jika warga negara yang berkompeten berkeinginan meramaikan dan menjadi bagian dari kemajuan dan kesuksesan demokrasi.

Islam sendiri sangat mengapresiasi wathaniyyiin (anak bangsa) jika ingin mengambil peran untuk berbagai kepentingan masyarakat dan bangsa, tanpa harus mengelompokkan tugas dan tanggung jawab mereka berdasarkan ‘labelnya’.

Label ini telah mengekang kemerdekaan berpolitik sebagian masyarakat. Contoh paling konkret adalah dicecarnya tokoh dan pemuka agama jika memasuki bursa politik.

Padahal, mengarahkan segenap potensi demi sebuah nilai luhur adalah ciri kesempurnaan agama seseorang.

Bahkan, dalam konteks sosial, kesalehan seseorang dapat dilihat dari apa yang diperbuatnya untuk orang lain (muslih).

Baca: Perlancar Hafalan Alquran, Ini Tips Imam Besar Masjid Agung Barru

Agama manapun sangat mendambakan penganutnya menjadi saleh dan bahkan meningkat ke derajat muslih (berguna bagi diri dan orang lain), serta memberikan kebebasan penuh dalam menjalankannya.

Halaman
1234
Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved