OPINI

Catatan Imam Shamsi Ali: Puasa Ramadan Itu Pengakuan Otoritas Ilahi

Penulis adalah Presiden Nusantara Foundation. Seorang ulama kelahiran Kajang, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulsel. Kini bermukim di Amerika Serikat.

Catatan Imam Shamsi Ali: Puasa Ramadan Itu Pengakuan Otoritas Ilahi
Dokumen Imam Shamsi Ali
Imam Shamsi Ali menuntun ikrar syahadah seorang muallaf Amerika di mushollah PBB New York, AS, sebelum menyampaikan khutbah Jumat (17/5/2019). 

Tiba-tiba suatu ketika sang anak jatuh sakit keras. Penyakit yang hanya akan sembuh dengan kepasrahan.

Tiada dokter, tiada obat-obatan. Apalagi mereka adalah keluarga miskin.

Di pagi hari sang suami bergegas pergi meninggalkan sang isteri dan anaknya yang tergeletak sakit keras untuk mencari sesuap nasi untuk keluarganya.

Tiba-tiba Allah mentakdirkan sang anak tercinta itu harus kembali menghadapNya. Sang anak yang masih kecil itu meninggal dunia.

Isteri sahabat itu dengan hati sedih memandikan jenazah anaknya, lalu menutupi tubuhnya dengan kain dengan sangat rapi.

Diletakkan sang anak yang terbungkus rapih itu di sudut ruang di rumahnya.

Pada malam hari sang ayah kembali di rumah, lalu bertanya ke isterinya perihal keadaan anaknya.

Isterinya memberitahu bahwa anaknya kini telah tenang dan istirahat.

Curi Traktor, Warga Amali Bone Ditembak

Sahabat itu merasa senang mendengarkan informasi isterinya jika anaknya kini tenang dan istiharat.

Disangkanya anaknya kini telah pulih dan istirahat. Maka malam itu terjadi hubungan dengan isterinya.

Sebelum subuh mereka berdua bangkit untuk sholat malam sebelum Fajar tiba. Tiba-tiba sang sahabat itu bertanya pada isterinya, kenapa anak mereka belum pernah kedengaran suaranya?

Dengan sedih tapi sangat tenang sang isteri bertanya kepada suaminya: “jika kita dititipi oleh tetangga sesuatu, lalu masanya dia ingin ambil kembali, haruskah bagaimana?”

Sang suami menjawab: “harusnya dikembalikan”.

Isteri itupun menyampaikan kepada suaminya bahwa anak mereka adalah titipan Allah. Dan Pemiliknya kini telah mengambilhya kembali.

Mendengar itu sang suami tidak terima. Beliau merasa isterinya kurang jujur atau minimal tidak terbuka pada dirinya.

Di subuh hari beliau melaporkan hal itu kepada Rasulullah SAW, bahkan secara jujur juga menyampaikan bahwa malam itu juga telah terjadi hubungan dengan isterinya.

Rasulullah SAW memberikan motivasi dengan sabdanya: “Allah akan menggantikan untuk kamu yang lebih banyak dan lebih baik”.

Menurut riwayat, dari sahabat dan isterinya inilah di kemudian hari terlahir beberapa ulama besar di kalangan thobi’in (generasi kedua) setelah sahabat-sahabat Rasulullah SAW.

Puasa melatih kita untuk menyadari semua titipan yang kerap diakui sebagai milik kita.

Kerap kali tanpa disadari terjadi arogansi kepemilikan. Padahal semua itu hanyalah titipan untuk dijaga sesuai dengan pesan Pemiliknya.

Makanan, minumanmu, dan segala kenikmatan duniamu, jika Yang memiliki melarangmu untuk menyentuhnya jangan disentuh.

Itulah pesan puasa. Latihan kesadaran akan kepemilikan Allah yang bersifat mutlak.

Orang bijak menasehati: “sikapilah dunia ini bagaikan tukang parkir”. Jika dititipi mobil-mobil mewah yang banyak dia akan menjaga sebaik-baiknya.

Tapi dia juga tidak akan mengakui sebagai miliknya. Dan jika masanya yang punya mengambil mobil itu, dia juga tidak bersedih.

Demikianlah dunia dan segala isinya ini. Semuanya adalah titipan sang Pencipta untuk dijaga sebaik-baiknya. Dan pada masanya akan diambil kembali.

Semoga kita sadar bahwa memang: “inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun” itu bukan sekedar “lip service”. Tapi keyakinan dan pandangan hidup sejati.

Dan Semoga puasa Ramadan menjadi momentum untuk membangun kesadaran itu. Amin!

Jamaica Hills, 16 Mei 2019

(Picture: menuntun ikrar syahadah seorang muallaf Amerika di mushollah PBB New York sebelum menyampaikan khutbah Jumat).

Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved