OPINI

Catatan Imam Shamsi Ali: Puasa Ramadan Itu Pengakuan Otoritas Ilahi

Penulis adalah Presiden Nusantara Foundation. Seorang ulama kelahiran Kajang, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulsel. Kini bermukim di Amerika Serikat.

Catatan Imam Shamsi Ali: Puasa Ramadan Itu Pengakuan Otoritas Ilahi
Dokumen Imam Shamsi Ali
Imam Shamsi Ali menuntun ikrar syahadah seorang muallaf Amerika di mushollah PBB New York, AS, sebelum menyampaikan khutbah Jumat (17/5/2019). 

Oleh: Imam Shamsi Ali
(Presiden Nusantara Foundation - Ulama Asal Sulsel yang bermukim di AS)

SALAH satu kekeliruan besar manusia adalah perasaan kepemilikan (ownership) dalam hidup.

Padahl sejatinya segala sesuatu dalam hidup duniawi kita bersifat amanah (titipan). Titipan, bukan kepemilikan.

Oleh karena itu bagi orang beriman, hidup ini di satu sisi tidak boleh diakui. Namun di sisi lain harus dipekihara dan dijaga baik-baik.

Ungkapan Al-Quran: “inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun” (kami adalah milik Allah, dan sesungguhnya kepadaNyalan kami kembali) bukan sekedar ungkapan kesedihan di saat ada musibah atau kematian.

Tapi sesungguhnya adalah filsafat hidup. Bahkan fondasi dan wawasan (world view) hidup itu sendiri.

Alam semesta dan segala isinya, semuanya ada dalam milik Allah SWT. Dan dengan sendirinya semuanya berada di bawah otoritas (kekuasaan) Allah.

Ayat-ayat dalam Al-Quran seperti: “bagi Allah segala yang di langit dan di bumi” atau “bagi Allah kerajaan langit dan bumi” berulang kali diungkap dalam Al-Quran.

Merupakan penegasan bahwa “al-mulk” (kerajaan) dan “al-milkiyah” (kepemilikan) untuk Allah adalah bagian dari akidah tauhid kita.

Ditangkap Polisi Gegara People Power, Honorer Dinsos Sulsel Bilang Begini

Yaitu meyakink bahwa kepemilikan absolut dan otoritas tunggal yang sejati adalah Allah. Selainnya adalah pinjaman dan bersifat semu.

Halaman
1234
Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved