68 Persen Korban Bencana Sulteng Masih Menganggur Pascagempa

Menurutnya, 68 persen penyintas di Sulawesi Tengah belum bekerja pasca gempa, tsunami dan likuifaksi di daerah itu.

68 Persen Korban Bencana Sulteng Masih Menganggur Pascagempa
Faiz/tribunpalu.com
Tenda-tenda pengungsian di Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah. 

TRIBUNPALU.COM, PALU - Koordinator Sulteng Bergerak, Adriansa Manu, mengemukakan bahwa pemerintah seakan lepas tanggung jawab terhadap korban bencana sejak tanggap darurat dinyatakan selesai.

"Khususnya untuk memberikan layanan pemenuhan dasar kepada korban," katanya, Jumat (17/5/2019) siang.

Padahal fakta di lapangan, para penyintas masih butuh bantuan logistik karena belum memiliki pekerjaan.

Menurutnya, 68 persen penyintas di Sulawesi Tengah belum bekerja pasca gempa, tsunami dan likuifaksi di daerah itu.

Kondisi ini meliputi Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Moutong.

Data tersebut, berdasarkan hasil survei Sulteng Bergerak dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) pada Maret 2019.

Survei ini dilakukan di 25 titik pengungsian.

Baik di huntara maupun yang masih tinggal di kamp-kamp darurat.

"Dalam survei itu, kami mengambil sampel 1000 responden," ujar Adrian.

Artinya, bahwa korban bencana saat ini masih butuh pelayanan dasar pemerintah hingga ekonomi mereka benar-benar pulih.

Kata Adrian, membiarkan korban bencana dengan ketiadaan pekerjaan, sama halnya negara sengaja menelantarkan korban.

"Kami mendesak pemerintah untuk mencari alternatif pekerjaan kepada semua korban yang kehilangan pekerjaan pasca bencana," pungkasnya.

Penulis: abdul humul faaiz
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved