Kelola Risiko Bencana Jadi Prioritas Indonesia, Ini Pidato 3,5 Menit Wapres JK di Swiss

pemerintah telah mengarusutamakan perspektif pengurangan risiko bencana ke dalam seluruh aspek rencana pembangunan jangka menengah dan jangka panjang.

Kelola Risiko Bencana Jadi Prioritas Indonesia, Ini Pidato 3,5 Menit Wapres JK di Swiss
dok.tribun
Wapres Jusuf Kalla (JK) menyampaikan pidato dalam Global Platform on Disarter Risks Reduction (GPDRR) di International Conference Center Geneva (CICG) Swiss di Jenewa, Swiss, Kamis (16/5/2019). 

Husain Abdullah
Jubir Wapres RI
Dari Jenewa

TRIBUN-TIMUR.COM, JENEWA - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK), mewakili Pemerintah Indonesia, menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada Pemerintah Swiss sebagai Tuan Rumah Pertemuan Global Pengurangan Risiko Bencana PBB tahun 2019 dan kepada UNDRR yang telah menyelenggarakan pertemuan.

Pernyataan tersebut di sampaikan saat berbicara di Global Platform on Disarter Risks Reduction (GPDRR) di International Conference Center Geneva (CICG) Swiss di Jenewa, Swiss, Kamis (16/5/2019).

“Indonesia turut bangga dapat mengambil bagian pada pertemuan yang terhormat ini, yang bertujuan untuk memperkuat kerja sama kita dalam pelaksanaan Kerangka Sendai,” ujar Wapres.

Lebih jauh Wapres menuturkan bahwa sebagai negara yang telah mengalami banyak bencana alam, Indonesia memahami betul arti penting implementasi Kerangka Sendai, baik di tingkat lokal, nasional, kawasan, maupun dunia.

“Pada tingkat lokal dan nasional, pengelolaan risiko bencana, telah dan selalu menjadi prioritas Indonesia,” kata Wapres.

Wapres menjelaskan bahwa sebagai cerminan komitmen politik Indonesia, pada Februari 2019, Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan badan-badan serta para pemangku kepentingan terkait, untuk kembali memperkuat kesiapsiagaan Indonesia dalam menghadapi bencana.

Wapres menambahkan dalam instruksi Presiden Indonesia itu memerintahkan implementasi kemitraan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mengintegrasikan rencana pembangunan yang mencakup pengurangan risiko bencana dan koordinasi pemerintah daerah dan nasional serta penerapan pengurangan risiko bencana yang berbasis ilmu pengetahuan. Untuk itu perkuat di tingkat lokal dan nasional.

“Kami menerapkan pendekatan pentahelix, yang meliputi antara lain, pemerintah daerah, akademisi, tokoh masyarakat, sektor swasta, serta organisasi masyarakat sipil,” ucapnya.

Sedangkan dalam upaya integrasi pengurangan risiko bencana ke dalam agenda pembangunan, Terang Wapres, pemerintah telah mengarusutamakan perspektif pengurangan risiko bencana ke dalam seluruh aspek rencana pembangunan jangka menengah dan jangka panjang.

Selanjutnya, Wapres menjelaskan bahwa keuntungan yang diperoleh dari pembangunan tersebut juga telah didayagunakan untuk memperkuat upaya implementasi agenda-agenda pengurangan risiko bencana.

“Hal ini tercerminkan melalui penggunaan prinsip-prinsip Revolusi Industri 4.0 dalam memasyarakatkan indeks risiko bencana Indonesia secara meluas, dengan dukungan pusat informasi daring,” paparnya..

Pada forum yang bertajuk “Resillience Dividend: toward Sustainable and inclusive Societe” , Wapres menuturkan bahwa tidak ada satupun negara yang dapat menghadapi sendiri dampak dari bencana, karenanya Indonesia percaya bahwa kerja sama internasional memainkan peranan yang sangat penting.

“Dalam hal ini, Indonesia terus berkomitmen tinggi untuk memajukan kerja sama kawasan dan global di bidang pengurangan risiko bencana,” tandasnya.

Wapres pun menjelaskan program dan pelatihan yang telah dijalankan sebagai wujud komitmen terhadap kerja sama internasional. Diantaranya program-program bersama di bidang peningkatan kapasitas, khususnya melalui mekanisme triangular dan Kerja Sama Selatan-Selatan.

Kerja Sama Selatan-Selatan, antara lain, dengan Fiji, India, Selandia Baru, Australia, Korea Selatan, Jepang, Swiss, Amerika Serikat, dan negara-negara ASEAN.

Halaman
12
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved