Begini Modus Sindikat Guru Pemalsu Penelitian yang Terjaring OTT Polres Gowa

Dua oknum guru pemalsu penelitian tindakan kelas terjaring operasi tangkap tangan Polres Gowa.

Begini Modus Sindikat Guru Pemalsu Penelitian yang Terjaring OTT Polres Gowa
TRIBUN TIMUR/ARI MARYADI
Dua oknum guru Asriani Djabbar (32) dan Haswirah Hamsah (37) diamankan polisi dalam operasi tangkap tangan (OTT), Rabu (15/5/2019). (Foto Ari Maryadi) 

TRIBUN-TIMUR.COM, SUNGGUMINASA - Dua oknum guru pemalsu penelitian tindakan kelas, Asriani Djabbar (32) dan Haswirah Hamsah (37) terjaring operasi tangkap tangan Polres Gowa.

Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga mengatakan keduanya oknum guru itu melakukan pemalsuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penelitian Kinerja Guru (PKG) yang dimanfaatkan sebagai syarat kenaikan pangkat bagi guru.

Modus yang digunukan adalahnya keduanya bekerja sebagai sindikasi di SMK di Kabupaten Gowa.

Baca: Safari Ramadan di Manuju, Wabup Gowa Karaeng Kio Pulang Kampung

Baca: Eratkan Silaturahmi, PT Alfa Global Indonesia Buka Puasa Bersama di Samata Gowa

Baca: Pemkab Gowa Alokasikan Rp 20,9 Miliar Bangun Kecamatan Bungaya

Guru yang ingin mengajukan kenaikan pangkat mesti lewat sindikat tersebut agar dimudahkan jalannya. Sindikat ini pun mewajibkan pemohon mengetor uang jutaan rupiah.

Sementara guru yang menumpuh jalur tidak melalui sindikat tersebut, meski telah membuat PTK dengan baik, berkas yang diajukan tidak akan diproses dengan alasan.

"Guru yang akan naik pangkat tidak diproses karena tidak melalui sindikasi ini, PTK-nya diabaikan," beber Shinto Silitonga, Kamis (16/5/2019).

Sindikat tersebut membuka jasa dan mencari keuntungan uang bagi guru yang ingin naikan pangkat.

Padahal pengajuan kenaikan pangkat dengan PTK dan PKG telah diatur dalam peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan (Disdikbud) no 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik untuk guru.

Menurut Shinto, kedua oknum guru ini diketahui sudah beberapa kali melakukan pemberian jasa pembuatan PTK dan PKG kepada sejumlah guru yang ingin naik pangkat, dengan mengutip dana sebanyak Rp2 juta perguru.

“Keduanya mengaku telah menerima orderan jasa dari beberapa guru. Mirisnya lagi, pembuatan PTK tersebut bahkan dilakukan dengan cara memplagiasi karya milik orang lain, melalui internet dengan memodifikasi karya tulis seseorang seolah-olah hasil ciptaannya,” imbuh Shinto Silitonga.

Halaman
12
Penulis: Ari Maryadi
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved