Elpiji 3 Kg Langka dan Mahal, Ini Penjelasan Pemkab Luwu Utara

Kelangkaan disertai mahalnya harga elpiji 3 kilogram (kg) tengah jadi perbincangan hangat di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Elpiji 3 Kg Langka dan Mahal, Ini Penjelasan Pemkab Luwu Utara
chalik/tribunlutra.com
Wakil Bupati Luwu Utara, Muhammad Thahar Rum, memimpin pertemuan membahas elpiji 3 kg dan BBM di ruang rapat wakil bupati Luwu Utara, Jl Simpurusiang, Masamba. 

TRIBUNLUTRA.COM, MASAMBA - Kelangkaan disertai mahalnya harga elpiji 3 kilogram (kg) tengah jadi perbincangan hangat di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Bertepatan dengan itu, Pemkab Luwu Utara menggelar rapat membahas elpiji dan bahan bakar minyak (BBM) di ruang rapat wakil bupati Luwu Utara, Jl Simpurusiang, Masamba, Kamis (9/5/2019).

Rapat yang dipimpin Wakil Bupati Luwu Utara Muhammad Thahar Rum digelar oleh Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM, dihadiri Sales Executive LPG I Region VII Wilayah Parepare Haerul Anwar serta agen dan pangkalan.

Baca: Jadwal dan Doa Buka Puasa Hari ke-4 Ramadhan, Niat Salat Tarawih dan Bacaan Niat Puasa

Baca: TRIBUNWIKI: Berhasil Cetak Gol Keempat untuk Liverpool, Berikut Profil Trent Alexander-Arnold

Thahar mengatakan, persoalan harga sembako, BBM, dan elpiji selalu terjadi pada saat Ramadan dan hari raya.

Untuk itu, perlu upaya bersama mengatasi masalah ini.

"Terus terang tiga hal ini pengaruhnya luar biasa bagi masyarakat. Untuk itu hari ini kita duduk bersama guna menyikapi hal ini agar segera bisa kita atasi terutama terkait elpiji 3 kg," ujar Thahar.

Kepala DP2KUKM, Muslim Muhtar, mengatakan, salah satu faktor terjadinya kelangkaan elpiji 3 kg karena banyak pemakai dari kalangan masyarakat ekonomi menengah ke atas.

"Kenapa terjadi kelangkaan seperti saat ini karena banyak yang menggunakan elpiji 3 kg dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Harusnya elpiji 3 kg untuk masyarakat prasejahtera," terang Muslim.

Baca: Banding Ditolak, Hamzah Mamba Harus Mendekam di Penjara Selama 20 Tahun, Bagaimana Nasib Jamaah?

Lalu soal mahalnya harga, Muslim menjelaskan bahwa pengelolaan distribusi hanya sampai di tingkat pangkalan bukan di pengecer.

"Meskipun Pertamina sudah menentukan ada 30 persen dari pangkalan bisa didistribusi ke pengecer, tapi persoalan di lapangan pengguna perorangan membeli ke pengecer. Nah sudah pasti naik harganya," terang Muslim.

Sebenarnya sudah ada regulasi terkait penentuan harga eceran tertinggi (HET) untuk elpiji 3 kg, tapi itu hanya berlaku di tingkat pangkalan saja.

"Walaupun kita sudah tentukan dengan Perbup bahwa HET untuk di pangkalan itu hanya Rp 17.200, tapi yang terjadi di pengecer sudah di atas Rp 20 ribu. Bahkan ada yang sampai Rp 35 ribu," terang Muslim.

Muslim lalu mendorong pihak Pertamina segera melakukan peralihan elpiji 3 kg ke elpiji 5,5 kg.

"Program peralihan gas elpiji 3 kg ke gas elpiji 5,5 kg ini sangat baik dalam rangka memenuhi kebutuhan gas elpiji 3 kg bagi masyarakat yang memang berhak memakainya," katanya.

Sales Executive LPG I Region VII Wilayah Parepare Haerul Anwar mengungkapkan alokasi reguler elpiji 3 kg untuk Luwu Utara yakni 186.480 tabung per bulan.

Baca: Melapor Balik, Gus Nur Minta Ditahan Satu Sel dengan Kaharu

"Kalau kebutuhan itu meningkat, ada alokasi fakultatif atau penambahan sebesar 319.020 tabung. Jadi ada kenaikan sekitar 17 persen. Untuk bulan Ramadan ini ada sekitar 218.400 tabung," ujar Haerul.

Ia juga memberi saran agar Pemda Luwu Utara segera membuat regulasi di tingkat pengecer terkait HET.

"Pengecer kita tidak bisa tindaki soalnya di luar kewenangan kami. Kecuali pangkalan kita masih bisa beri teguran dan sanksi bahkan pencabutan untuk dinonaktifkan sebagai pangkalan," jelasnya. (*)

Laporan Wartawan TribunLutra.com, @chalik_mawardi_sp

Jangan Lupa Subscribe Channel Youtube Tribun Timur:

Follow juga Instagram Tribun Timur:

Penulis: Chalik Mawardi
Editor: Ansar
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved