Bentuk Toleransi, Seleksi Tilawatil Quran dan Hadist Sulsel di Toraja Digelar di Aula Gereja

Koordinator Dewan Hakim pada kegiatan ini Kaswad Sartono, mengungkapkan pendapatnya terkait kegiatan ini.

Bentuk Toleransi, Seleksi Tilawatil Quran dan Hadist Sulsel di Toraja Digelar di Aula Gereja
handover
koordinator Dewan Hakim pada pelaksanaan STQH di Tator, Kaswad Saryono 

Makassar, Tribun - Seleksi Tilawatil Qur'an dan Hadis (STQH) Ke-31 Tingkat Provinsi di adakan di Toraja, Sulawesi Selatan.

Koordinator Dewan Hakim pada kegiatan ini Kaswad Sartono, mengungkapkan pendapatnya terkait kegiatan ini.

“Saat detik-detik awal memimpin rapat konsolidasi dan orientasi Dewan Hakim STQH di Aula Hotel Sahid Tana Toraja tiba-tiba hatiku bergetar dahsyat dan bangga sekali. ketika melihat daftar di lokasi lomba STQH,” tuturnya saat menghubungi Tribun Timur, Rabu (23/4/2019).

Menurutnya, hal tersebut terjadi karena pertama kali dalam momentum per-STQ-an atau bahkan per-MTQ-an di Indonesia yang mana musabaqah (lomba) baca dan hafal Al-Qur'an dan al-Hadis berlokasi di lingkungan Gereja.

“Bukan di masjid, bukan di Madradah, atau di Pondok Pesantren. Namun di Aula Gereja Katolik dan di Aula Gereja Toraja. Subhanallah!,” jelasnya lagi.

Cabang Tilawah Anak-Anak dan Dewasa bertempat Panggung Utama Plaza Kolam Makale, Cabang Hifdz Qur'an 1 dan 5 Juz Tilawah bertempat di Masjid Raya Makale, Cabang Hifdz 10 dan 20 Juz bertempat di Aula Gereja Katolik Makale dan Cabang Hifd 30 Juz, Tafsir dan Hadis bertempat di Aula Gereja Toraja Makale.

“Dari perspektif kerukunan hidup umat beragama, yang membuat hati saya gemetar sekaligus bangga adalah adanya proses dialektika dan dinamika yang begitu luhur dan jujur dalam berfastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan, berpartisipasi dalam menyukseskan agenda musabaqah, bukan hanya aspek penyelenggaraan tetapi juga prestasi STQH-nya," katanya.

Misalnya, sambungnya, dari pengurus atau majelis gereja Katolik dan gereja Toraja begitu suka rela “menyumbangkan pikiran dan tenaga dalam kepanitiaan sekaligus penggunaan aula gereja sebagai media pendidikan.

Baginya, dalam kajian kerukunan umat beragama, filosofi dan hakikat toleransi umat beragama itu jika terpenuhi tiga unsur yakni pertama keyakinan adanya perbedaan, kedua sikap saling menghormati terhadap perbedaan, ketiga adanya perilaku kerjasama yang saling memberi dan menerima.

“Dengan niat dan tujuan hidup bersama, interaksi bersama dan sukses bersama, yang tidak sama sekali menghitung untung ruginya,” katanya.

STQH 2019 ini yang rencananya dibuka secara resmi oleh Gubernur Sulawesi Selatan akan dihadiri oleh para tokoh umat beragama to maraja-nya Sulawesi Selatan antara lain Bupati, Wakil Bupati Tana Toraja, Ketua dan Anggota DPRD Tana Toraja, Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Prof Muhammadiyah Amin, Kakanwil Kemenag Sulsel H. Anwar Abubakar dan undangan penting lainnya.

“Saya yakini akan meraih sukses besar, di samping sukses pelaksanaan, sukses prestasi, juga akan memperlihatkan kepada dunia akan sukses kerukunan, toleransi dan harmoni umat beragama sebagai syarat terwujudkan pembangunan manusia yang berkualitas, berkeadilan dan bermartabat sekaligus menjadi wahana turunnya berkah dan rahmat Tuhan di bumi NKRI, khususnya Sulawesi Selatan,” katanya.

Menurutnya toleransi yang terjadi ini, karena hadirnya komunikasi batin yang terjadi di bawah komando “tiga imam besar" yaitu Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, Bupati Tana Toraja Nicodemus Biringkanae dan Kakanwil Agama Sulsel Anwar Abubakar.

Menurutnya Tana Toraja merupakan terminologi simpel atau qaulan layyinan. Namun memiliki makna filosofi dan kearifan lokal Sulawesi Selatan yang luar biasa dalamnya.

“Kata Toraja bisa berasal dari bahasa Bugis “to riaja" yang berarti orang yang tinggal di negeri atau daratan tinggi, karena memang Tana Toraja berada di ketinggian bisa juga dari kata “tau raja" yang berarti orang raja atau bangsawan. Namun dari aspek sosiologis-filosofis Toraja memiliki makna “to maraja", artinya orang yang memiliki kedudukan tinggi karena kebaikan hati, pikiran dan perilakunya semakna dengan istilah “to malebbi, to madeceng, to makessing, to maraja, to macinnong, to makanjak,” katanya.

Penulis: Desi Triana Aswan
Editor: Ina Maharani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved