Dekan FTI UMI Makassar: UU Pemilu Tidak Manusiawi

Dekan FTI UMI Makassar, Zakir Sabara HW, menyatakan bahwa pesta demokrasi kali ini tidak manusiawi lantaran petugas KPPS

Dekan FTI UMI Makassar: UU Pemilu Tidak Manusiawi
DOK FTI UMI
Dekan FTI UMI, Zakir Sabara H Wata saat dicium anak-anak pengungsi korban bencana alam di Palu, Sulawesi Tengah. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Sejumlah akademisi yang tergabung dalam Forum Dosen Tribun Timur menggelar diskusi bertemakan 'Dialektika Pasca Pileg dan Pilpres Serentak 2019: Menjaga Indonesia' di Kantor Tribun Timur, Jl Cendrawasih, Makassar, Senin (20/3/2019) sore.

Dekan FTI UMI Makassar, Zakir Sabara HW, menyatakan bahwa pesta demokrasi kali ini tidak manusiawi lantaran petugas KPPS dipekerjakan lebih 24 jam.

Termasuk saksi-saksi peserta Pemilu 2019 yang tidak bisa diganti dan harus menunggu hingga proses penghitungan suara selesai ditingkat TPS maupun di PPK, dan kabupaten/kota.

"UUD Pemilu inikan tidak manusiawi karena orang dipekerjakan 24 jam, KPPS menghitung dan mencatat. Belum lagi mereka mengantar surat undangan sebelum pencoblosan atau pemungutan suara," kata Zakir, Senin (22/4/2019).

"Paling parahnya, ada saja oknum-oknum pejabat yang sengaja mempersulit dan memperlambat kerja-kerja PPK. Mereka ini yang tidak lolos keluarga," tambah Zakir.

Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Hasrullah, mengatakan, politik uang sudah biasa terjadi di Indonesia.

"Kenapa, karena sudah tidak ada etika. Pak Agus Arifin Nu'mang sendiri mengakui bahwa tidak bisa terpilih karena harus keluarkan uang Rp 200 ribu perkepala. Jadi demokrasi kita belum dewasa," katanya.

Namun terkait hasil-hasil survei, harusnya KPU dan Bawaslu tampil bahwa quick count itu bukan hasil resmi dan secepatnya melakukan sesuatu.

"Ini kecelakaan sejarah karena kedua calon presiden sama-sama mengklaim terpilih, dulu dua hari pasca pemungutan suara sudah ada memberikan ucapan selamat, ini sudah berapa hari masih saja belum ada yang mengucapkan selamat," ungkapnya.

"Dulu ada forum rektor, sekarang tidak ada muncul. Kemana semua ini? Disingkirkan atau menyingkirkan diri," ungkap Hasrullah.(ziz)

Laporan Wartawan tribuntimur.com/ Abdul Azis Alimuddin

Penulis: Abdul Azis
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved