OPINI

OPINI - Isra Mi’raj dan Masjid Al Aqsha

Harus dipahami terlebih dahulu bahwa Ka’bah dan Masjid Al-Aqsha adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan...

OPINI - Isra Mi’raj dan Masjid Al Aqsha
Muh Azis Albar/TribunEnrekang.com
Komisioner Baznas Enrekang, Ilham Kadir 

Oleh:
Dr Ilham Kadir MA
Peneliti MIUMI - Pimpinan Baznas Enrekang

Setiap 27 Rajab dalam hitungan kalender hijriyah, umat Islam seluruh dunia selalu mengenang peristiwa besar yang pernah terjadi pada diri Nabi Muhammad berupa isra dan mi’raj.

Secara sederhana, isra adalah perjalanan Rasulullah pada malam hari dari Masjidil Haram, Makkah, ke Masjid Al-Aqsha, Yerussalem.

Kedua jenis perjalanan di atas, isra dan mi’raj sarat dengan nilai teologis sebab tidak dapat dicerna dengan akal manusia.

Untuk memahaminya harus menggunakan intrumen keimanan tingkat tinggi. Lalu dipadukan dengan bukti-bukti empiris yang tersisa sebagai pelajaran bagi umat manusia.

Jika dipetakan, ada beberapa dimensi yang menarik untuk dikaji dalam peristiwa isra mi’raj.

Namun yang paling kontekstual sepanjang masa adalah posisi Masjid Al-Aqsha dan kota Yerussalemm di mana masjid tersebut bertapak.

Demikian pula perjalanan Rasulullah ke Sidratul Muntaha’ atau langit tertinggi selaku umat Islam sudah mengimani bahwa hasil perjalanan tersebut adalah lahirnya syariat salat lima waktu dalam sehari semalam.

Baca: Fakultas Ekonomi Unibos Gandeng UGM Tingkatkan Kualitas Jurnal

Masjid Al-Aqsha
Harus dipahami terlebih dahulu bahwa Ka’bah dan Masjid Al-Aqsha adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, baik dalam perspektif sejarah keberadaannya, maupun fungsi dan keutamannya.

Dalam sejarah pembangunannya dapat dilihat dari sebuah hadis Nabi, disebutkan bahwa sahabat Nabi, Abu Dzar al-Ghifari, bertanya kepadanya tentang masjid yang pertama kali didirikan?

Halaman
1234
Editor: Aldy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved