Lindungi Pertanian Dalam Negeri, Kementan Musnahkan 6,1 Ton Benih Jagung Asal India

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Karantina Pertanian Bandar Udara Soekarno Hatta memusnahkan 6,1 ton benih jagung asal India.

Lindungi Pertanian Dalam Negeri, Kementan Musnahkan 6,1 Ton Benih Jagung Asal India
Dok Kementan
Lindungi Pertanian Dalam Negeri, Kementan Musnahkan 6,1 Ton Benih Jagung Asal India 

TRIBUN-TIMUR.COM, TANGERANG - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Karantina Pertanian Bandar Udara Soekarno Hatta memusnahkan 6,1 ton benih jagung asal India.

Pemusnahan dilakukan karena benih tersebut positif mengandung bakteri yang belum pernah ada di Indonesia dengan kategori Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) A1 bernama Pseudomonas Syrungae Pv Syrungae (PSS).

Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil mengatakan meski benih yang masuk lewat Bandara Soekarno - Hatta akhir tahun lalu ini memiliki dokumen resmi dan lengkap dari negeri asal, Karantina Pertanian Indonesia wajib untuk tetap melakukan pemeriksaan laboratorium, dan hasilnya benih tersebut tidak lolos dalam verifikasi perkarantinaan Indonesia.

“Ini merupakan bentuk komitmen kami menjaga pertanian dalam negeri dari ancaman OPTK, terlebih bakteri ini belum pernah ada di Indonesia, selain merusak produksi jagung dalam negeri, bakteri ini juga sangat berbahaya karena dapat menyerang berbagai jenis family tanaman lain“ ujar Ali Jamil saat pemusnahan di Instalasi Karantina Pertanian, Balai Besar Soekarno Hatta.

Menurut Ali Jamil, bakteri PSS akan sangat berbahaya bagi kinerja petani dalam berproduksi, karena berpotensi mengurangi produksi jagung secara signifikan hingga 40 % dari hasil panen.

Apabila bakteri tersebut tersebar, lanjut Ali Jamil, potensi kerugiannya diperkirakan mencapai Rp 11 Triliun per tahun.

Angka tersebut belum termasuk biaya pengendalian yang harus dikeluarkan pemerintah.

Hal ini tidak hanya mengancam ketahanan pangan nasional tetapi juga pendapatan 6,7 juta keluarga petani jagung di Indonesia.

“Luas pertanaman jagung Indonesia mencapaj 3,35 jt ha, dengan produksi 3,4 ton per ha, apabila kemampuan berproduksi tanaman diestimasi berkurang hingga 40 % maka total kehilangan produksi bisa mencapai 4,5 juta ton, dengan harga per ton Rp 2,5 juta maka akumulasi kerugian mencapai Rp 11 Triliun” beber Ali Jamil.

Dikesempatan yang sama Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Sumarjo Gatot Irianto mengatakan PSS merupakan bakteri yang sangat berbahaya karena termasuk penyakit yang belum ditemukan di Indonesia dan tidak dapat dibebaskan dengan cara perlakuan sehingga harus dimusnahkan dengan cara dibakar.

Halaman
123
Editor: Sakinah Sudin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved