Gunung Bawakaraeng Rusak, Ini Pernyataan Terbuka Forum Diskusi Introspeksi Kepencintaalaman

Diskusi di Kampus STIM Nitro, Jl Racing Centre No 101, Makassar ini, berlangsung selama lima hari, 23-27 Maret 2019.

Gunung Bawakaraeng Rusak, Ini Pernyataan Terbuka Forum Diskusi Introspeksi Kepencintaalaman
dokumen pribadi
Ketua NPA Afiliasi, Ummawati, memimpin pembacaan pernyataan terbuka hasil diskusi 'Introspeksi' Kepencintaalaman di kampus Nitro, Makassar. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Memperingati Hari Gunung Bulu Bawakaraeng, 26 Maret, Nitro Pencinta Alam (NPA) Afiliasi STIM Nitro Makassar, menggelar diskusi 'Introspeksi' Kepencintaalaman.

Diskusi di Kampus STIM Nitro, Jl Racing Centre No 101, Makassar ini, berlangsung selama lima hari, 23-27 Maret 2019.

Mengangkat tema "Gunung Bulu Bawakaraeng: Sumber Kehidupan dan Sumber Ilmu Pengetahuan, Bukan Sumber Penghasilan!", diskusi mengangkat 3 sub topik yang secara garis besar berkaitan dengan kerusakan Gunung Bulu Bawakaraeng dan peran organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (MPA) menyikapi persoalan tersebut.

Diskusi ditutup dengan penyampaian pernyataan terbuka oleh para peserta.

"Kegiatan ini ditujukan kepada seluruh pengguna identitas Mahasiswa Pencinta Alam (MPA) agar sekiranya melakukan evaluasi gerakan, terutama dalam pergerakannya menyikapi persoalan Gunung Bulu Bawakaraeng. Sikap kritis dan proaktif sekiranya dapat kita lakukan bersama," ujar Ketua NPA Afiliasi, Ummawati, melalui rilisnya ke tribun-timur.com, Rabu (27/3/19).

Berikut isi pernyataan:

Dengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ketundukan manusia sebagai makhluk mulia dan sempurna menghadirkan kemaslahatan dan menghilangkan kemudaratan merupakan wujud kepedulian, amanah, dan penghambaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Gunung Bulu Bawakaraeng adalah Firdaus Allah di muka bumi dan Kalam Allah yang terpatri pada hak makhluk dan Mahasiswa Pencinta Alam (MPA) berkewajiban mengantarkan hak yang bersemayam pada fakultas-fakultas alam semesta menuju Hak Tuhan Yang Maha Esa.

Gunung Bulu Bawakaraeng merupakan saksi awal peradaban manusia di Selatan Sulawesi. Ia-lah sekalian identitas ajaran Mangkasarak dan menjadi akar Kerajaan Gowa serta kerajaan-kerajaan lain.

Ketidaktahuan dan minimnya pemahaman sejarah menjadi sebab utama perubahan cara berpikir masyarakat menjadi meterialistis, ditambah lagi pengambilan kebijakan pemerintah yang ikut memandang Gunung Bulu Bawakaraeng sebagai objek sumber penghasilan, pada posisi inilah gunung Bulu Bawakaraeng menjadi objek pemuas pemuas nafsu duniawiah.

Isi sampah dan kerusakan vegetasi yang diwacanakan oleh pemerintah merupakan pemahaman yang sangat dangkal dan terbaca sangat politis untuk dijadikan alasan lahirnya kebijakan.

Begitu juga dengan tuduhan pemerintah terhadap istilah "pendaki" sangatlah berpotensi politis, tidak akademis, dan tendensius. Terhadap persoalan ini sebaiknya menggunakan sebutan perilaku dan aktivitas pengunjung.

Pengguna sebutan konsepsi mahasiswa pencinta alam sebagai salah satu aktor kritis lapisan terakhir idealisme mahasiswa, juga tengah mengalami krisis nilai diatasi rusak terzaliminya Gunung Bulu Bawakaraeng.

Oleh karena itu, mengingatkan kepada seluruh pengguna sebutan konsepsi mahasiswa pencinta alam untuk menghormati kemuliaan sejarah mahasiswa pencinta alam (MPA) dan tidak menjerumuskan konsepsi mahasiswa pencinta alam kedalam ranah politik praktis.

Kemudian, kepada pemerintah serta seluruh elemen dan golongan masyarakat untuk menyadari dan mendorong cultural landscape heritage menjadi status hukum Gunung Bulu Bawakaraeng sebagai solusi ril dari seluruh permasalahan yang mengakar dan akan mengembalikan fungsi dan kedudukan Gunung Bulu Bawakaraeng (poterangngi Bulu Bawakaraeng RI memangnganna).

Pernyataan ini kami sampaikan secara terbuka pada tanggal 26 Maret 2019, yang bertepatan dengan peringatan Hari Gunung Bulu Bawakaraeng sebagai momentum untuk mengingatkan semua orang tentang ni' at Allah dan peristiwa bencana alam debris slide/debris flow di Gunung Bulu Bawakaraeng pada 26 Maret 2004.

Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved