Tiga Pekan Air PDAM Mamasa Ngadat, LMND Akan Lapor ke Ombudsman

Bahkan persolan ini mengundang tanggapan Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND) Ekskuitif Kota Mamasa.

Penulis: Semuel Mesakaraeng | Editor: Imam Wahyudi
semuel/tribunmamasa.com
Ketua LMND Eksekutif Mamasa, Arnol Buntulangi 

TRIBUNMAMASA.COM, MAMASA - Pelayanan Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Mamasa dikeluhan masyarakat.

Hal itu menjadi keluhan karena sudah tiga pekan air PDAM tidak lancar.

Bahkan persolan ini mengundang tanggapan Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND) Ekskuitif Kota Mamasa.

Ketua LMND Mamasa, Arnol Buntulangi mengatakan, pelayanan PDAM seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena merupakan kebutuhan utama masyarakat setiap hari.

Menurutnya, PDAM adalah unit usaha milik daerah yang bergerak dalam distribusi air bersih bagi masyarakat umum. Dengan demikian PDAM harus mampu menangani persoalan ini.

"Kalau Direktur PDAM tidak mampu, sebaiknya mundur dari jabatannya," kata Arnol saat dikonfirmasi, Selasa (26/3/2019).

Arnol mengatakan, UUD 1945 pada pasal 33 ayat 3 menyebutkan, Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat.

Ia juga menyebutkan, Undang-undang nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air seharusnya menjadi dasar bagi pemerintah untuk menjalankan pelayanan kepada masyarakat.

“Pengelolan air bersih di Mamasa tidak mempertimbagkan kualitas air yang di komsumsi masyarakat setiap harinya," sebutnya.

Bahkan kata Arnol, air PDAM yang dikonsumsi warga kadang keru dan berpasir jika musim hujan.

Olehnya itu, Arnol menegaskan, jika dalam waktu dekat, pihak terkait mengabaikan keluhan masyarakat, maka pihaknya akan melakukan aksi unjuk rasa.

“Kasus ini akan kami laporkan ke Ombudsman RI, dan jika dalam waktu dekat tidak ditindak lanjuti maka kami akan melakukan unjuk rasa,” tuturnya.

Sebelumnya, seperti dilansir tribunmamasa.com Senin (25/3/2019), sejumlah warga di Dusun Ponding Desa Buntubuda mengeluhkan persoalan ini.

Hal itu karena warga terpaksa mengangkut air menggunakan jeriken sejauh 300 meter di lembah di tepi sawah.

Laporan wartawan @rexta_sammy

Sumber: Tribun Timur
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved