OPINI

OPINI - Menggugat Kebahagiaan Era Millenial

Hidup tak lagi sekadar memenuhi kebutuhan primer, tapi juga kebutuhan gaya. Demikianlah manusia modern.

OPINI - Menggugat Kebahagiaan Era Millenial
tribun timur
Direktur Bidang Penelitian dan Pengembangan Cikini Syndicate Jakarta

Oleh:
Ayatullah R Hiba
(Direktur Litbang Cikini Syndicate - Anggota Peradi)

Berita penangkapan pejabat korup atau artis yang terlibat prostitusi online, seringkali membuat kita mempertanyakan takaran kebahagiaan.

Hidup tak lagi sekadar memenuhi kebutuhan primer, tapi juga kebutuhan gaya. Demikianlah manusia modern.

Tulisan ini tak bermaksud mengupas para koruptor dan artis tersebut secara khusus, tapi secara umum membuka mata kita pada tafsir bahagia yang kini banyak dianut oleh kaum millenial.

Kebahagiaan adalah hasrat setiap manusia. Meskipun secara subtansial, kultur dan latar belakang histori masing-masing individu membuat kebahagiaan mereka berbeda.

Lantas, adakah nilai umum yang menjadi dasar bersama dalam mencapai kebahagiaan? Dari sekian banyak pendekatan, saya membatasi kajian ini pada filsafat eudaimonisme Sokrates.

Di era kontemporer, di mana hampir semua kebahagiaan ditakar dengan materi (baca: uang). Sulit rasanya menemukan pandangan eudaimonisme ala Sokrates.

Baca: TRIBUNWIKI: Disebut Penyebar Hoax Pertama Ratna Sarumpaet, Siapa Dahnil Anzar? Ini Profilnya

Tujuan hidup manusia adalah kebahagiaan yang dicapai melalui kebaikan universal. Ia bertumpu pada moral dan etika.

Sebuah pencapaian harmoni antara tegangan jiwa luhur dan hasrat manusia. Demikian inti filsafatnya.

Mencoba menarik konsep tersebut pada kenyataan hari ini, maka ia akan mengalami kebuntuan.

Halaman
1234
Editor: Aldy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved