9 Jam Aksa Mahmud dan Ramlah Kalla Simak Barzanji dan Talqin Bugis

Supir Taksi Teladan Sulsel 2009 ini, baru mengatar tuannya kembali ke kediamannya, Jl Chairil Anwar, sekitar pukul 20.00 wita.

9 Jam Aksa Mahmud dan Ramlah Kalla Simak Barzanji dan Talqin Bugis
TRIBUN TIMUR/ABDUL AZIS
Festival Barzanji dan Talqin Berbahasa Bugis 2019 antara pesantren se-Sulawesi Selatan. Festival dilaksanakan di Masjid Cheng Hoo, Jl Danau Tanjung Bunga, Kelurahan Maccini Sombala, Kecamatan Tamalate, Makassar, Sabtu (9/3/2019). 

Syawir, dalam sambutan di akhir acara ini ternyata menyimak jalannya lomba. 

"Beliau ini sudah jadi pimpinan MPR-RI. pekerjakan puluhan ribu orang, tiap tahun bantu masjid, dan pesantren, tapi masih mau mendengarkan talqin dan barazanji sampai 8 jam duduk bersila di belakang kami," ujar pemimpin madrasah tahfidz quran di Biringkanaya dan Jagong, Pangkajene ini.

Kepedulian Aksa atas event yang dia gagas saat malam takziyah wafatnya keponakannya, Hasanuddin Hasma (1959-2019) akhir Februari lalu ini, juga dia buktikan dengan beri kejutan.

Kepada juara I lomba Talqin dan 3 santri yang juara Barzanji dia menghadiahkan paket umrah.

"Semoga sebelum Pilpres bisa berangkat," kata Aksa usai mengumumkan hadiah kejutan itu.

Juara I Barzanji adalah tiga santri dari Pondok Tahfidzul Qur’an Al Imam Ashim, Tidung Mariolo, Makassar.

Mereka adalah Arafah Mahsyar, M Rusmin dan  Nur Rahman.

Sedangkan Juara I Talqin adalah santri ponpes DDI Mangkoso; Muh Ferdiyansyah M.

Yang membuat Aksa kian terharu sebab, santri juara Talqin ini datang menemui Aksa Mahmud dan istrinya serta meminta agar hadiah umrahnya dialihkan ke ayahnya.

"Bapakku mi saja yang berangkat Puang Haji. Dia penjual kue basah ji di Pasar Mamajang, kalau saya insyallah tahun depan dapat ji bea siswa kuliah di Al Azhar Mesir," kata Ferdiyansah, santri kelas XII Madrasah Aliyah DDI Mangkoso ini.

Kebetulan, ayah si santri; Syamsul Bahri dan ibunya Ariani, juga datang menyaksikan penampilan putra sulungnya di Masjid Ceng Hoo.

Orangtua Ferdiyansyah sejatinya tinggal di Segeri, utara kabupaten Pangkep.

Namun karena sehari-hari berdagng kue basah di Pasar Mamajang, keluarga ini pun ngobtrak rumah di Jl Onta Lama. Ferdiansyah nyantri, adiknya ikut ayahnya di Makassar. 

Penulis: Thamzil Thahir
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved