9 Jam Aksa Mahmud dan Ramlah Kalla Simak Barzanji dan Talqin Bugis

Supir Taksi Teladan Sulsel 2009 ini, baru mengatar tuannya kembali ke kediamannya, Jl Chairil Anwar, sekitar pukul 20.00 wita.

9 Jam Aksa Mahmud dan Ramlah Kalla Simak Barzanji dan Talqin Bugis
TRIBUN TIMUR/ABDUL AZIS
Festival Barzanji dan Talqin Berbahasa Bugis 2019 antara pesantren se-Sulawesi Selatan. Festival dilaksanakan di Masjid Cheng Hoo, Jl Danau Tanjung Bunga, Kelurahan Maccini Sombala, Kecamatan Tamalate, Makassar, Sabtu (9/3/2019). 

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - "Selama saya jadi sopir bapak, sudah hampir 10 tahun, jarang saya tunggu bapak dan ibu sampai 9 jam di satu acara," kata Anto (41), supir pribadi keluarga Aksa Mahmud, di pelataran Masjid Cheng Hoo, Jl Danau Tanjung Bunga No 62, Maccini Sombala, Kecamatan Tamalate, barat Kota Makassar.

Anto mengantar empunya mobil DD 23 AM ke acara Festival Barazanji dan Talqin Berbahasa Bugis, pukul 09.00 wita pagi ke Masjid Cheng Hoo, Sabtu (9/3/2019).

Supir Taksi Teladan Sulsel 2009 ini, baru mengatar tuannya kembali ke kediamannya, Jl Chairil Anwar, sekitar pukul 20.00 wita.

Sebelum tiba di rumah, sekitar 1 jam, Aksa menjamu sekitar 54 santri dan pendamping delegasi dari 14 pesantren di Sulsel, di Restoran Lae-Lae, Jl Datu Museng, sekitar 3,8 km sebelah utara Masjid Cheng Hoo.

Jamuan makan malam ini, sejatinya tak ada dalam agenda festival.  "Sekali setahun, kita makan sama santri itu juga berkah." kata Aksa.

Selaku inisiator lomba pembacaan sejarah Rasulullah Muhammad SAW (Barzanji) dan rapalan pengingat alam kubur (Talqin) dalam bahasa Bugis, Aksa memang sejak awal ingin  menyimak jalannya festival.

Kepala Kantor Kemenag Sulsel H Anwar Abubakar (46), menyebut festival antar pesantren se-Sulsel ini baru pertama kali digelar.

Aksa setuju ajakan Kakanwil otoritas agama 24 kabupaten/kota itu, untuk menggelar festival serupa yang melibatkan lebih banyak pesantren, majelis taklim, dan memperlombakn barzanji dalam bahasa Bugis, Makassar, Luwu dan Mandar.

Baginya event ini langka. Lomba barzanji ini juga mengingatkan masa kecilnya di Mangkoso awal era 1950-an dan masa remajanya 1960-an di Parepare.  Tahun ini, Aksa sudah berusia 74 tahun. 

"Saya sudah lama jadi wasit lomba MTQ, tapi baru kali ini ada lomba talqin dan barzanji dalam bahasa Bugis," kata KH Syawir Dahlan (61), satu dari 3 anggota majelis hakim event ini.

Halaman
12
Penulis: Thamzil Thahir
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved