Kementan Jadi Tuan Rumah Pelaksanaan Rabies Risk Assesment Negara Asia Tenggara! Digelar di Bali

Kementan Jadi Tuan Rumah Pelaksanaan Rabies Risk Assesment Negara Asia Tenggara! Digelar di Bali

Kementan Jadi Tuan Rumah Pelaksanaan Rabies Risk Assesment Negara Asia Tenggara! Digelar di Bali - organisasi-kesehatan-hewan-dunia-oie-2.jpg
dok humas kementan
Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) bersama Kementerian Pertanian, dengan dukungan dari Departemen Pertanian dan Sumber Daya Air Australia mengadakan Rabies Risk Assessment Workshop di Denpasar Bali pada pada Tanggal 6 - 8 Maret 2019.
Kementan Jadi Tuan Rumah Pelaksanaan Rabies Risk Assesment Negara Asia Tenggara! Digelar di Bali - organisasi-kesehatan-hewan-dunia-oie-1.jpg
dok humas kementan
Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) bersama Kementerian Pertanian, dengan dukungan dari Departemen Pertanian dan Sumber Daya Air Australia mengadakan Rabies Risk Assessment Workshop di Denpasar Bali pada pada Tanggal 6 - 8 Maret 2019.
Kementan Jadi Tuan Rumah Pelaksanaan Rabies Risk Assesment Negara Asia Tenggara! Digelar di Bali - organisasi-kesehatan-hewan-dunia-oie.jpg
dok humas kementan
Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) bersama Kementerian Pertanian, dengan dukungan dari Departemen Pertanian dan Sumber Daya Air Australia mengadakan Rabies Risk Assessment Workshop di Denpasar Bali pada pada Tanggal 6 - 8 Maret 2019.

TRIBUN-TIMUR.COM - Penyakit anjing gila (Rabies) masih menjadi salah satu masalah serius di bidang kesehatan masyarakat dan kesehatan hewan. Indonesia sendiri masih memiliki wilayah yang tertular rabies.

Dikutip dari rilis humas Kementan, penyakit rabies ini dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis), menimbulkan keresahan masyarakat dan dapat mengakibatkan kematian apabila tidak ditangani dengan tepat.

Peduli dengan hal tersebut, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) bersama Kementerian Pertanian, dengan dukungan dari Departemen Pertanian dan Sumber Daya Air Australia mengadakan Rabies Risk Assessment Workshop di Denpasar, Bali, 6 - 8 Maret 2019.

Baca: Program Kementan, Petani Raup Rejeki dari Bawang Merah, Cabai, Kentang dan Sayuran

Baca: Stabilkan Harga Daging Ayam, Kementan Perkuat Kemitraan Antara Peternak dan Integrator

"Kegiatan itu diikuti peserta negara kepulauan di Asia Tenggara, Timor Leste dan Papua New Guinea," kata I Ketut Diarmita, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian.

Peserta dari Indonesia diwakili dari Ditjen PKH dan perwakilan dari wilayah tertular yaitu Provinsi Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat.

Dalam kegiatan ini dilakukan kaji ulang tentang status penyakit rabies di suatu wilayah, menguraikan tentang pergerakan anjing, identifikasi jalur risiko yang berpengaruh terhadap penyebaran dan sirkulasi virus yang mengakibatkan rabies pada anjing untuk mendapatkan rekomendasi tindakan pencegahan dan penanggulangan penyakit yang dibutuhkan.

Ronello Abila dari Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) meminta agar kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi negara negara di Asia Tenggara dan negara tetangga untuk mempertahankan wilayahnya yang masih bebas, serta memberikan masukkan strategi pengendalian untuk negara yang sudah tertular.

Metode Praktis Berbasis Ilmiah

Sementara itu, Michael Ward dari Sydney University yang merupakan salah satu fasilitator menyampaikan bahwa risk assessment yang didiskusikan dalam kegiatan ini merupakan metode yang cukup praktis dan berbasis ilmiah.

Halaman
123
Penulis: Darul Amri Lobubun
Editor: Arif Fuddin Usman
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved