Mulai April, Pemkot Palu Mengaku Tidak Mampu Lagi Tanggung Jadup Pengungsi

Sebanyak 40.000 jiwa lebih warga Kota Palu saat ini masih tinggal di pengungsian. Baik di Huntara maupun di tenda darurat.

Mulai April, Pemkot Palu Mengaku Tidak Mampu Lagi Tanggung Jadup Pengungsi
TRIBUN TIMUR/MUHAKIR TAMRIN
Penyintas yang tinggal di Hunian Sementara Banua Petobo, Kecamatan Palu Selatan, belum lama ini. Jadup yang disediakan oleh Pemkot Palu akan berakhir pada akhir Maret 2019. 

TRIBUNPALU.COM, PALU -- Sebanyak 40.000 jiwa lebih warga Kota Palu saat ini masih tinggal di pengungsian. Baik di Hunian Sementara atau Huntara maupun di tenda darurat.

Sebanyak 40.000 jiwa lebih itu mendapat jaminan hidup (Jadup) melalui APBD Kota Palu tahun 2019.

Wali Kota Palu, Hidayat mengatakan, Jadup diberikan Pemkot Palu kepada penyintas hanya dimulai dari Oktober 2018 hingga Maret 2019.

Baca: Undata Palu Catat 74 kasus DBD Dalam Dua Bulan, 3 Meninggal Dunia

Baca: Jadwal MotoGP 2019 Qatar Pekan Ini Live Trans 7, Berikut Analisis 4 Tim Siapa Peluang Juara?

Baca: Lima Bulan Berlalu, Atlet Porda Bantaeng Belum Terima Bonus

Dengan menghabiskan anggaran sekitar Rp 54 miliar lebih.

Jadup yang ditanggung yaitu dengan memberikan makanan pokok kepada 40.000 jiwa lebih di Kota Palu yang masih berada di titik pengungsian.

Sayangnya, dana yang dimiliki Pemkot Palu cukuo terbatas.

"Selesai Maret sudah selesai tidak mampu lagi kita (Pemkot Palu, red). Oleh karena itu saya sudah ketemu Pak Doni (Kepala BNPB, red) kemarin mudah-mudahan dari BNPB bisa menyambung hidup 1-2 bulan ke depan," ujarnya, Selasa (5/3/2019).

Pihaknya berharap BNPB dapat mengambil peran. Sebab, jika menunggu bantuan dari Kementerian Sosial, maka masih harus menunggu lama.

Karena masih berputar-putar dengan persoalan data.

"Kita berharap dari BNPB ini Insya Allah bisa diwujudkan. Sehingga kita bisa tanggulangi lagi makanan-makanan keluarga-keluarga kita yang sampai saat ini masih di pengungsian," terangnya.

Tercatat, Kota Palu adalah salah satu daerah terparah yang terdampak bencana alam tanggal 28 September 2018 lalu.

Sedikitnya, ada 13 Kelurahan di pesisir pantai yang terdampak tsunami. Serta di 2 Kelurahan terjadi likuifaksi. (tribunpalu.com/Muhakir Tamrin)

Jangan Lupa Subscribe Channel Youtube Tribun Timur :

Jangan Lupa Follow akun Instagram Tribun Timur:

A

Penulis: Muhakir
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved