Begal Potong Tangan Bikin Marah Hakim Pengadilan Makassar

Kedua terdakwa itu adalah Firman alias Emmang (22), Aco Alias Pengkong (21). Ia merupakan pelaku begal yang mengakibatkan tangan korban

Begal Potong Tangan Bikin Marah Hakim Pengadilan Makassar
hasan/tribun-timur.com
Majelis Hakim Pengadilan Negeri Makassar merasa geram dengan nada tinggi menegur dua terdakwa begal karena tidan memberikan keterangan yang sebenarnya di persidangan. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Majelis Hakim Pengadilan Negeri Makassar merasa geram dengan nada tinggi menegur dua terdakwa begal karena tidan memberikan keterangan yang sebenarnya di  persidangan.

Kedua terdakwa itu adalah Firman alias Emmang (22), Aco Alias Pengkong (21). Ia merupakan pelaku begal yang mengakibatkan tangan korban mahasiswa asal Enrekang, Imran, putus.

"Saya minta jawab dengan jujur, kalau tidak ini akan memperberat hukuman kali ," kata Majelis Hakim Bambang Nurcahyono yang didampingi dua hakim anggota lainnya, Selasa (05/03/2019).

Di dalam persidangan,  kedua terdakwa yang merupakan pelaku utama dianggap tidak  memberikan keterangan yang sebenarnya dan keteranganya pun selalu  berubah ubah.

Salah satunya terkait posisi  pelaku dan korban pada saat pemarangan terjadi. Terdakwa mengatakan saat memarangi korban jaraknya berjauhan.

"Jaraknya dekat atau jauh tidak. Tolong jawab jujur. Saya tau semua, karena saya juga pernah jadi begal, tapi sudah insaf," kata Bambang Nurcahyono di ruang persidangan.

Hakim juga dibuat marah, karena para terdakwa tidak mau mengakui siapa yang   memberikan inisiatif  sehingga langsung memaragi korban.

Awalnya terdakwa mengaku disuruh oleh terdakwa Aco. Tetapi keterangan  Firman tiba tiba berubah dan menyebutkan atas inisiatif sendiri.

Dalam proses persidangan berlangsung juga terungkap jika kedua  pelaku bukan baru kali ini berurusan dengan hukum. Hakim menyebut terdakwa Firman pernah terlibat kasus 351 atau penganiayaan. Sementara Aco terlibat 365 pencurian secara kekerasan.

Firman dalam persidangan juga  mengatakan HP korban yang dirampas ditangan korban langsung dijual kepada terdakwa Irman.

HP itu dijual seharga Rp 900 ribu. Hasilnya, kemudian dibagi tiga. Firman mendapatkan Rp 250 ribu, Aco Rp 550  ribu dan Fatullah selaku pemilik motor Rp 100 ribu. 

Penulis: Hasan Basri
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved