Profesor Taruna Ikrar Launching Buku Gagasan Indonesia Modern Berbasis Neuroleadership

Pakar Neuro Science Profesor Taruna Ikrar, meluncurkan buku berjudul Gagasan Indonesia Modern Berbasis Neuroleadership.

Profesor Taruna Ikrar Launching Buku Gagasan Indonesia Modern Berbasis Neuroleadership
dok pribadi
Profesor Taruna Ikrar Launching Buku Gagasan Indonesia Modern Berbasis Neuroleadership 

Orang bisa memacu dan meningkatkan kemampuan kerja otak, dan jika itu dilakukan maka fisiologi otak pun akan ikut berkembang.

Otak menjadi terbatas hanya jika orang yang bersangkutan tidak mendayagunakannya; tidak mengoptimalkan fungsinya.

Hadir dalam launching buku Prof Taruna Ikrar, Komisaris Utama Pertamina Tanri Abeng.

Dalam paparannya, Tanri Abeng sangat memberi apresiasi atas gagasan Taruna iIkrar yang menjadikan neuroleadership sebagai dasar dalam mempersiapkan calon pemimpin Indonesia.

Pemikiran seorang putra anak bangsa yang tidak melupakan jati dirinya sebagai anak bangsa indonesia di mana Taruna Ikrar ingin melihat Indonesia maju, dengan memanfaatkan ilmu dan pengetahuan yang mutakhir di bidang otak dan pemikiran.

Sementara itu, Humas IDI Kota Makassar Dr Wachyudi Muchsin SH mengatakan launching buku Profesor Taruna Ikrar sarat tentang ilmu neuroscience terhadap dunia kepemimpinan apalagi menyambut pesta demokrasi 2019 akan dilaksanakan pemilihan presiden dan calon anggota legislatif.

Humas IDI Kota Makassar Dr Wachyudi Muchsin SH
Humas IDI Kota Makassar Dr Wachyudi Muchsin SH (dok pribadi)

Dalam buku ini dijelaskan temuan bahwa otak manusia ternyata bisa selalu bertumbuh.

Yang pertama, setiap kali orang melakukan satu hal baru, semisal menyetir mobil untuk kali pertama, satu neuron dalam otak saling berkomunikasi dengan neuron lain.

Neuron mengirimkan pesan melalui salah satu ujung sinapsisnya ke ujung sinapsis neuron lain. Paket pesan dikirimkan melalui kimia otak yang disebut neurotransmitter.  

Menyetir untuk kali kedua berarti mengulangi proses yang sama di otak, dan menyetir untuk kali ke-1000 berarti mengulangi hal yang sama di otak, juga untuk kali ke-1000.

Untuk kali ke-1000 dua ujung terminal sudah nyambung, dengan ketersambungan ala jalan tol, sehingga neurotransmitter tidak lagi melompat tetapi mengalir dan melaju. Pada titik itu orang mencapai tahap fasih atau ahli.

Yang mencengangkan lagi, tidak ada batasan sampai titik mana orang akan belajar dan mengembangkan diri.

Dengan kata lain orang bisa belajar apapun sampai kapanpun, dan otak memungkinkan semuanya terjadi.

Kembali ke awal, belajar bisa dilakukan tanpa batas karena sifat plastis otak manusia (neuroplasticity).

Yang kedua, lebih dari bersifat plastis, ternyata sel-sel saraf otak juga terus berkembang secara biologis.

Entah dengan proses belajar atau tidak, secara biologis otak manusia bisa berkembang.

Di masa lalu para ilmuwan hanya melihat perkembangan biologis (neuro-genesis) otak dalam kurun perkembangan hidup manusia, dari bayi, kanan-kanak, hingga dewasa.

Tetapi banyak ilmuwan modern yang menemukan bahwa proses neuro-genesis tetap berlangsung hingga manusia dewasa.

Yang ketiga, masih setara dengan hal ini, ada fakta ilmiah lain yang membesarkan hati. Di bidang neuroscience juga ada istilah neural-compensation.

Istilah ini merujuk pada kemampuan otak untuk menggunakan struktur dan jaringan otak yang normalnya tidak dipakai oleh orang lain.

Misalnya orang buta yang mampu mengoptimalkan indera pendengaran dan penciuman.

Dan penemuan yang lebih mutakhir lebih mencengangkan lagi. Neural-compensation itu ternyata bukan semata proses mekanistis tak sadar, tetapi hasil belajar.

Orang tidak secara sadar sedang “memberikan order” pada otak untuk melakukan proses kompensasi, tetapi ternyata itulah yang terjadi ketika orang secara tekun dan bekerja keras melakukan sesuatu yang berbeda dari yang lain. (*)

Editor: Sakinah Sudin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved