Area Patung Kuda di Depan Fort Rotterdam Jadi Rebutan dan Bersengketa, Begini Ceritanya

Rencana revitalisasi itu menuai penolakan dari Aliansi Rakyat dan Mahasiswa (ALARM). Aliansi gabungan dari sejumlah organisasi pergerakan di Makassar.

Area Patung Kuda di Depan Fort Rotterdam Jadi Rebutan dan Bersengketa, Begini Ceritanya
(TRIBUN TIMUR/MUSLIMIN EMBA)
Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulsel Laode Muhammad Aksa, ditemui di kantornya, Selasa (26/2/2019). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulsel Laode Muhammad Aksa, berencana akan melakukan revitalisasi halaman depan Benteng Fort Rotterdam.

Rencana revitalisasi itu menuai penolakan dari Aliansi Rakyat dan Mahasiswa (ALARM). Aliansi gabungan dari sejumlah organisasi pergerakan di Makassar.

Penolakan itu muncul, lantaran tempat tinggal Ali Amin (51) penjaga dan perawat taman Patung Kuda di sisi kiri depan benteng Fort Rotterdam terancam bakal digusur.

Padahal dari kacamata ALARM, Ali Amin selama 24 tahun terakhir telah mendedikasikan dirinya untuk turut berpartisipasi melestarikan cagar budaya Benteng Fort Rotterdam dengan menjaga dan merawat keindahan taman Patung Kuda.

Taman yang selama dua dekade terakhir terakhir menjadi sarana publik itu, dikelola Ali Amin atas dasar surat tugas Gabungan Pengusaha Sulsel pada Tahun 1995.

Selain itu, pengabdian Ali Amin sebagai penjaga dan perawat taman tidak sedikitpun membebani anggaran negara.

Biaya pengelolaan dan perawatan taman diperoleh Ali Amin dari hasil jualan kopi di kedai kopi yang ia dirikan atas permintaan Gapensi Sulsel.

Selain itu, penolakan ALARM tersebut juga didasari atas sikap pihak Balai yang dianggap tidak berprikemanusiaan.

"Pak Ali Amin, ini juga tidak pernah mengaku bahwa ini sebagai tanahnya dan ingin tinggal selamanya di taman ini. Cukan kan harus juga pak Ali Amin ini dipikirkan nasibnya kedepan karena selama ini kan telah mengambdikan diri juga untuk pelestarian cagar budaya ini. Bukan terkesang sewenang-wenang," tegas Kordinator ALARM Mukhtar Guntur.

Namun, menurut Laode, keberadaan Ali Amin, menduduki taman hingga saat ini,  tidak lagi mempunyai alasan kuat.

Halaman
12
Penulis: Muslimin Emba
Editor: Ina Maharani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved