Tribun Wiki

TRIBUNWIKI: Sejarah Letjen Hertasning, Tokoh Revolusi asal Sulsel, Dubes di Singapura dan Australia

Jl Letjen Hertasning adalah salah satu jalan utama di Kota Makassar. Berbatasan langsung dengan Jl AP Pettarani dan Jl Tun Abdul Razak.

Penulis: Ina Maharani | Editor: Ina Maharani
http://eresources.nlb.gov.sg
Letjen Haeruddin Tasning atau Letjen Hertasning, saat menjabat sebagai duta besar Indonesia untuk Singapura 

TRIBUN-TIMUR.COM - Jl Letjen Hertasning adalah salah satu jalan utama di Kota Makassar. Berbatasan langsung dengan Jl AP Pettarani dan Jl Tun Abdul Razak.

Ruas jalan ini selalu ramai, baik oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Termasuk salah satu jalur dari Kabupaten Gowa ke Kota Makassar.

Siapakah sebenarnya Hertasning itu?

Seperti dilansir dalam buku Tokoh Dibalik Nama-nama Jalan Kota Makassar karya Anwar A dan Abidin A tahun 2008 oleh Indonesian Culture Watch, yang dilansir di blog http://muhishaqramli.blogspot.com, berikut sejarah dari Letnan Jendral Hertasning, yang sebetulnya bernama Haeruddin Tasnin.

Nama Lahir

Letnan Jenderal Hertasning lahir di Makassar pada tanggal 19 Desember 1922. Ia adalah putera kedua dari pasangan H. Tasning Daeng Muntu dan Hj. Bonto Daeng Kunjung.

Nama sebenarnya adalah Haeruddin Tasning yang kemudian disingkat menjadi HerTasning.

Sebagaimana adat istiadat orang Bugis Makassar, Haeruddin Tasning diberi nama Makassar yaitu Daeng Toro', sehingga namanya menjadi Her Tasning Daeng Toro.

Masa Sekolah

Hertasning menghabiskan masa kecilnya disebuah kampung di Makassar yang bernama Parangtambung. Hertasning bersekolah di SD Jongaya pada tahun 1929.

Setelah tamat SD Hertasning pun melanjutkan ke Shakel School yang kini setara dengan pendidikan SMP.

Setelah itu Hertasning melanjutkan pendidikan di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) - Makassar, sebuah sekolah yang dibangun pada 1927 oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Pada saat menimba ilmu di sekolah menengah atas, Hertasning muda menumpang di rumah seorang saudagar kayu yang bernama H.Badong yang tinggal di Jl Latimojong karena keluarga HerTasning hijrah ke kampung di pinggiran kota Sungguminasa yang bernama kampung Taeng.

Merantau ke Bogor

Setelah menamatkan pendidikan SMA pada tahun 1942, HerTasning merantau ke Bogor dan terdaftar sebagai mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia bercita-cita untuk memajukan sektor pertanian di kampung halamannya.

Sayangnya cita-cita tersebut harus putus ditengah jalan karena kondisi keamanan pada waktu itu tidak memungkinkan.

Pada saat pecah perang gerilya dan usaha-usaha pemuda dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, HerTasning ikut bersama pemuda-pemuda Sulawesi Selatan lainnya antara lain Kahar Muzakkar, Andi Ahmad Rivai, dan Andi Mattalatta bergerilya dan bergabung dengan pasukan Jend. Soedirman di Klaten Jawa Tengah.

Bertemu Istri

Di medan peperangan di Jogjakarta, HerTasning muda berkenalan dengan seorang wanita ayu yang membantu merawat para pejuang yang terluka bernama R.A. Madahera.

Madahera adalah puteri seorang pejabat daerah di Solo yang bernama Raden Sugeng Persiswoyo. Mereka pun menikah pada tahun 1948 yang kemudian dikaruniai empat (4) orang putera-puteri yaitu Bambang Irawan HerTasning Daeng Irate, Diah Herawati Hertasning Daeng Kebo, Burhanuddin Trianto Dg. Parumpa, dan Ahmad Rayendra HerTasning Dg. Rewa.

Tokoh Revolusi

Letnan Jenderal Hertasning Daeng Toro adalah seorang tokoh revolusi kemerdekaan Indonesia yang merupakan putra asli Sulawesi Selatan.

Ia terlibat dalam perjuangan bersama TNI atau Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat APRIS di Makassar Pasca-kemerdekaan.

Mayor Jenderal A H Nasution selaku pemimpin TNI menginginkan anggota pasukan militer yang profesional dan tidak sekadar berjasa dalam perjuangan meraih kemerdekaan.

Salah satu yang dianggap profesional dan akhirnya dilantik sebagai anggota TNI adalah Hertasning.

Hertasning juga mantan dubes indonesia untuk Singapura dan Australia

Rekam Jejak

Adapun rekam jejak perjalanan karir LetJend. HerTasning adalah sebagai berikut:

1951-1953 Komandan CPM Kodam VII Wirabuana di Manado
1953-1955 Komandan CPM Kodam VII Wirabuana di Makassar
1955-1957 Menempuh Pendidikan Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SSKAD) di Cimahi Jawa Barat
1957-1959 Kepala Staf Kodam Sulawesi Selatan dan Tenggara
1959-1960 Menempuh pendidikan kemiliteran di Fort Leavenworth, United States Army installation - Kansas
1960-1962 Atase Militer Indonesia di Kairo
1962-1966 Dirjen Pengamanan dan Hubungan Luar Negeri, Departemen Luar Negeri Republik Indonesia
1966-1967 Kepala Komando Intelejen Negara
1967-1973 Kepala Staf Pelaksana Kopkamtib bidang Luar Negeri, Departemen Luar Negeri Republik Indonesia
1973-1976 Duta Besar Indonesia untuk Australia
1976-1978 Duta Besar Indonesia untuk Singapura

Jadi Nama Jalan

Kondisi pantauan Lalulintas di depan kantor wilayah PT PLN Sulselrabar di Jl Letjen Hertasning, Toddopuli, Makassar, Senin (5/11/2018)
Kondisi pantauan Lalulintas di   Jl Letjen Hertasning, Toddopuli, Makassar, Senin (5/11/2018) (tribun timur/saldi irawan)
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved