Nando, Pemuda Perintis Kafe Gerobak di Majene
Penjaja kopi keliling di Majene merupakan hal baru. Jumlahnya sangat sedikit. Winardi salah satunya.
Penulis: edyatma jawi | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUNMAJENE.COM, MAJENE - Malam di perkotaan Majene cukup ramai seperti biasanya. Kendaraan lalu lalang memadati jalanan.
Seperti umumnya ibukota kabupaten, tiap malam di Majene juga selalu ramai.
Malam jadi waktu yang pas untuk refreshing melepas penat dari kesibukan aktivitas siang hari.
Malam juga menjadi waktu bagi muda mudi bersua. Nongkrong bersama sahabat, bercanda dan bercerita.
Hal ini pula yang membuat menjamurnya tempat nongkrong. Terutama cafe.
Jumlah cafe di Majene mungkin tak sebanyak daerah lainnya. Namun hampir tiap sudut perkotaan di daerah ini sudah tersedia cafe. Bahkan di Majene pun telah tersedia cafe keliling.
Penjaja kopi keliling di Majene merupakan hal baru. Jumlahnya sangat sedikit. Winardi salah satunya.
Pria yang akrab disapa Nando ini juga baru merintis usaha kopi keliling. Menggunakan gerobak dorong, ia mendatangi sejumlah tempat ramai untuk menawarkan kopi.
Malam ini, wartawan Tribun Timur bertemu Nando di samping kantor DPRD Majene.
Pria kelahiran 7 Juni 1998 itu sedang sibuk di balik gerobak dorongnya. Layaknya barista proffessional, ia sibuk meracik kopi untuk pelanggannya.
Tangannya nampak akrab dengan peralatan peracik kopi sederhana. Seperti mesin penghalus biji kopi, penyaring kopi atau rok presso hingga gelas pencampur.
Hanya beberapa menit saja, kopi racikan Nando pun siap disajikan untuk pelanggan.
Usaha kopi keliling milik Nando ini diberi nama Kedai Coffee Road.
Tak seperti pemuda lainnya, malam-malam Nando dihabiskan di gerobak ini.
Selepas magrib, Nando telah meninggalkan rumahnya di Tulu, Kelurahan Labuang Utara, Kecamatan Banggae Timur. Ia berjalan mendorong gerobak menuju lokasi mangkal tiap malamnya.
Ia melayani pelanggan hingga larut malam. Pulangnya kadang dini hari, pukul 01.00 WITA. Meski begitu Nando tak merasa waktunya tersita.
"Sekalian nongkrong juga kak," ujar Nando, Senin (18/2/2019).
Nando merupakan mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Majene jurusan akuntansi angkatan 2017.
Status sebagai mahasiswa bukanlah penghalang bagi Nando menjadi penjaja kopi keliling.
Baginya, di usia menjelang 21 tahun bukan saatnya lagi happy-happy. Tapi waktunya berfikir dewasa dan kreatif.
"Sudah waktunya mulai berpikir dewasa," ucapnya.
Bungsu empat bersaudara ini terinspirasi memulai usaha kopi setelah melihat hal serupa di Polewali Mandar (Polman).
Nando menilai usaha kopi keliling masih jarang di Majene. Apalagi prospeknya cukup menjanjikan seiring perkembangan daerah ini.
Meracik kopi pun bukan hal baru bagi alumni SMAN 2 Majene ini. Ia pernah menjadi peracik kopi atau barista di salah satu warung kopi (Warkop) di Majene. Dua bulan bekerja di Warkop Kopi Daeng menjadi bekal awalnya untuk memulai usaha ini.
Ia pun memberanikan diri untuk mewujudkan keinginannya itu. Gayung bersambut, niat Nando didukung penuh orang tuanya.
Ia diberikan modal Rp15 juta untuk membeli seluruh perlengkapan kopi keliling. Itu digunakan untuk membeli gerobak serta alat peracik kopi.
Maka Nando pun membuat Kedai Coffee Road. Kedai ini resmi beroperasi 11 Januari 2019.
Kedai ini menyediakan berbagai varian minuman. Diantaranya kopi susu, Vietnam drip, ekspresso, green tea, Thai tea dan red valvet.
Harga minuman racikan Nando sangat ramah dengan kantong mahasiswa. Kopi susu racikannya dijual seharga Rp8 ribu. Sedangkan minuman lainnya dijual Rp10 ribu.
Tiap malam, kedai milik Nando ramai pembeli. Pelanggannya kebanyakan anak muda.
Tiap malam Nando mendapat untung rerata Rp 50 ribu. Meski tak terlalu banyak, namun dia sangat bersyukur. Di usianya yang masih muda sudah bisa menghasilkan pundi rupiah dari hasil keringat sendiri. (TribunSulbar.com)
Laporan Wartawan Tribun Timur, @edyatmajawi