10 Warga Sulsel Meninggal Akibat DBD, Andi Surahman Batara Kritisi Pola Pencegahan oleh Pemerintah

Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat pada Universitas Muslim Indonesia ( FKM UMI), Andi Surahman Batara mengkritisi

10 Warga Sulsel Meninggal Akibat DBD, Andi Surahman Batara Kritisi Pola Pencegahan oleh Pemerintah
FKMUMI.AC.ID
Andi Surahman Batara 

TRIBUN-TIMUR.COM - Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat pada Universitas Muslim Indonesia ( FKM UMI), Andi Surahman Batara mengkritisi pola pencegahan penyakit demam berdarah atau demam dengue atau DBD di Sulawesi Selatan atau Sulsel).

Pola pencegahan yang ada sekarang dianggap belum berkelanjutan sehingga saat musim hujan dan banjir tiba, misalnya, banyak warga terjangkit.

"Jangan (pencegahan) tiba masa tiba akal, akhirnya kelabakan. Program pencegahan harus betul-betul berkelanjutan dan melibatkan semua stakeholder terkait, bukan hanya sekedar publikasi jargon," ujar mantan Ketua Umum Badko Himpunan Mahasiswa Islam Sulselbar ini, Sabtu (2/2/2019).

Penyakit DBD datang saban musim hujan sehingga bisa diprediksi kapan warga berpotensi terjangkit.

Andi Surahman Batara meminta pihak pengambil kebijakan melakukan mapping wilayah rawan DBD, kemudian melakukan pencegahan demi meminimalisir warga yang terjangkit.

Di Kota Makassar, pada Januari 2019 atau bersamaan musim hujan dan banjir, sebanyak 22 warga terjangkit, sebagaimana data dilansir Dinas Kesehatan Kota Makassar.

Di Sulsel, sebagaimana data dari Dinas Kesehatan Sulsel, ada 10 warga meninggal dunia, termasuk seorang di Makassar.

Plt Kepala Dinas Kesehatan, Bahtiar Baso menyebutkan, warga yang meninggal dunia paling banyak di Pangkep, yakni 5 orang.

Lalu, di Soppeng 2 orang, di Makassar 1 orang, di Maros 1 orang, dan di Wajo 1 orang.(*)

Editor: Edi Sumardi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved