Produktivitas Pertanian Naik, Wakil Rektor IPB Apresiasi Kinerja Kementerian Pertanian

Faktanya, capaian Kementan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Negara Thailand.

Produktivitas Pertanian Naik, Wakil Rektor IPB Apresiasi Kinerja Kementerian Pertanian
dok.kementerian pertanian
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman dan Rektor IPB, Arif Satri dan para wakil rektor serta dosen IPB foto bersama setalah acara Seminar Nasional Ketahanan Pangan untuk Kedaulatan Bangsa yang diselenggarakan di Kampus IPB, Kamis (24/01/2019). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR --Wakil Rektor IPB Bidang Kerjasama dan Sistem Informasi, Dodik Ridho Nurrochmat mengapresiasi peningkatan produktifitas yang dilakukan Kementan selama beberapa tahun ini. Faktanya, capaian Kementan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Negara Thailand.

"Secara umum produktivitas kita memang meningkat, kami turut kontribusi melalui panen padi IPB 3S di sejumlah daerah," kata Dodik seusai menghadiri Seminar Ketahanan Pangan Untuk Kedaulatan Bangsa.

Baca: Eks Kapolda Sulsel Irjen Umar Septono Dimutasi Karena Perpecahan di Polri? Kapolri Beri Penjelasan

Baca: Nasib Bos Abu Tours Ditentukan Senin Depan di Pengadilan Negeri Makassar

Baca: TRIBUNWIKI: Cara Unreg SIM Card Telkomsel, Indosat, XL, Tri, dan Smartfren

Karenanya, Dodok menegaskan selama ini banyak pihak salah paham dalam menilai naiknya produksi pangan. Seolah-olah sektor pertanian Indonesia segalanya adalah impor dari Thailand. Nyatanya, penilaian itu sama sekali tidak benar, apalagi jika tidak bisa dipertanggungjawabkan.

"Ini tidak benar. Saya kira statement pak menteri tepat sekali bahwa sebetulanya pertanian di kita ini semakin lebih baik. Tetapi persoalan adalah, kita ini sering lupa bahwa jumlah penduduk Thailand berapa sih, jika dibandingkan dengan penduduk kita," katanya.

Sementara itu, dalam keynote speech-nya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, menegaskan mafia pangan yang diselesaikan di era pemerintahan Jokowi-JK yakni ada 782 diproses hukum dan yang masuk penjara atau tersangka sebanyak 409. Memberantas mafia ini tidak mudah atau bukan pekerjaan kecil.

Baca: Sbmptn.ac.id-- Materi Soal SBMPTN 2019: Download Kisi-kisi Soal Saintek dan Soshum dan Kunci Jawaban

Baca: Kisah Mayjen TNI Ditilang Polantas, Kapolda Minta Maaf, Jawaban Poniman Saya yang Salah

“Perusahaan yang kami blacklist sudah 15, sebentar lagi ada 21 perusahaan besar kami tutup. Tidak boleh lagi berbisnis di Kementan. Aku yakin generasi muda setuju dengan itu. Praktek mafia pangan itu berupa kasus beras, ternak, hortikultura dan pupuk palsu,” tegasnya.

Untuk meningkatkan produksi pangan, lanjut Amran, Kementan tengah berupaya membangunkan raksasa tidur yang tersebar di seluruh Indonesia. Yakni menghidupkan 10 juta hektare lahan rawa menjadi lahan pertanian produktif.

"Mimpi besar kita adalah jangan membiarkan hujan jatuh ke laut sebelum jadi karbohidrat dan protein. itulah yang disebut pertanian. Kemudian ada 10 juta hektar raksasa yang akan kita bangunkan, kita akan membuat manajemen air. insya allah indoneaia jadi lumbung pangan dunia," pungkasnya.(*)

Lebih dekat dengan Tribun Timur, subscribe channel YouTube Kami: 

Follow juga akun instagram official Kami: 

Penulis: Hasan Basri
Editor: Hasrul
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved